Chaptered · FanFiction

[Chaptered] Beautiful Tubby (Chapter 5/END)


beautiful tubby

Title : Beautiful Tubby (Chapter 5/END)

Namja Casts :
# [EXO-K] Oh Sehun = stolid, cool, sometimes can be sharp, want to be a photographer
# [EXO-K] Byun Baekhyun = kind, sweet, nice, had a gold voice
# [EXO-M] Lu Han = polite, smart, talented, cute
# [EXO-K] Kim Jongin = charismatic, sexy
# [EXO-K] Park Chanyeol = humorist, childish, funny

Yeoja Casts :
~ [OC] Shin Hyori = lazy, really loves to eat
~ [OC] Lee Haena = (in this chapter, she lost her memory)
~ [OC] Kim Yunhee = smart, sharp
~ [OC] Sung Raewoo = tomboy, charismatic
~ [OC] Park Injung = optimistic

Other casts :
> [EXO-K] Kim Joonmyeon (Teacher)
> [OC] Lim Hyerin (Teacher)
> [OC] Hwang Raekyung (Cameo (as a fat student of class 1-1))

Genre : School Life, Romance, Friendship, A little bit sad

Rating : PG 13

Length : Chaptered

Disclaimer : ide ff ini terinspirasi dari berat badan aku yang sangat tidak ideal, alias gendut -__- semoga pada suka dan tinggalkan jejak apabila sudah selesai membaca, entah itu comment atau like, atau mungkin comment dan like? [NOT FOR SILENT READER AND PLAGIATOR] Hargai karya aku yaaaa^^ happy reading, chingudeul!

Summary :
Namanya Shin Hyori. Siswi kelas satu SMA yang berat badannya melebihi batas normal, atau bisa dibilang, gendut. Badannya bulat, pipinya sangat tembam. Teman – temannya sudah berkali-kali memperingatkannya agar Hyori tidak makan terlalu banyak. Namun percuma, Hyori tidak pernah mau mendengarnya. Dia tidak pernah peduli masalah tubuh langsing dan sebagainya. Dia tetap enjoy walaupun tubuhnya gendut.

Hingga suatu hari, dia bertemu seorang namja yang membuatnya jatuh hati. Dia pun mulai mencoba mendekati namja itu. Di saat dia baru memulai usahanya itu, namja yang dia sukai berkata, “Aku tidak suka yeoja gendut,” dengan ketus.
Pasca namja yang ia sukai berkata seperti itu, dia jadi semakin ingin membuktikan bahwa dia bisa menjadi yang namja itu inginkan.

#Chapter 5#

Haena mengerutkan dahinya. “Neo?”

Hyori menaikkan alisnya, menunggu lanjutan dari ucapan Haena.
“Nuguseyo?” Tanya Haena. Hyori terlihat bingung. Dia lalu menoleh ke arah Baekhyun yang sedang bersandar di dinding sambil memejamkan matanya dan melipat tangannya di atas perut.

“Ini aku, Haena-ya! Shin Hyori!” ucap Hyori. Haena semakin bingung.

“Sunbae,” panggil Hyori. Baekhyun membuka matanya lalu melihat ke arah Hyori. “Sebenarnya, apa yang terjadi pada Haena?”

Baekhyun menghela nafas. “Kajja, kita bicara di luar,” ajak Baekhyun sambil berjalan perlahan keluar menuju pintu. Hyori menatap Haena sekilas yang masih memasang tatapan bingung lalu berjalan mengikuti Baekhyun, begitu juga Yunhee.

Sesampainya mereka di luar, Raewoo dan Injung terlihat sedang duduk dengan tatapan kosong di kursi tunggu depan kamar Haena. Sementara Jongin dan Chanyeol hanya berdiri sambil sesekali mondar-mandir tidak jelas.

“Raewoo-ya! Injung-ah!” panggil Hyori seolah-olah baru melihat kedua temannya itu. Ya, karena saat dia datang tadi, dia berlari begitu tergesa-gesa sehingga tidak menyadari keberadaan Raewoo dan Injung.
Mendengar panggilan Hyori, Raewoo mendongak. “Ini semua gara-gara kau, Hyori-ya,” ucapnya. “Mwo?” jawab Haena tidak mengerti.

“Sejak Haena putus dari Baekhyun, dia selalu mendapat masalah. Kau tidak tahu kan? Haena jadi sering melamun akhir-akhir ini. Dia jarang melakukan aktifitasnya seperti biasa. Dan yang paling aku tidak suka adalah, sekarang dia jadi pemurung dan pemarah,” lanjut Raewoo.

“Sudahlah Raewoo-ya! ini bukan saatnya untuk saling menyalahkan,” ucap Jongin.

“Sebenarnya, begini Hyori-ya. Haena itu hilang ingatan. Dia hanya mengingat ingatan terakhirnya saat umurnya tujuh tahun. Dia mungkin hanya akan tahu oorang tua dan keluarganya. Dia tidak ingat pada kita,” jelas Injung yang hampir menangis.

Hyori dan Yunhee menutup mulutnya dengan tangan saking kagetnya.

“Dan itu semua karena aku,” ucap Baekhyun tiba-tiba. Semuanya otomatis menoleh ke arah Baekhyun. Memasang tatapan bertanya.

“Kalau saja aku lebih cepat, kecelakaan itu pasti bisa dihindari. Dan pasti Haena baik-baik saja sekarang,” lanjutnya. Semuanya mengerutkan dahi. Chanyeol berjalan mendekati Baekhyun lalu merangkul bahunya.

“Jangan bicara seperti itu, Baekhyun-ah. Ini semua adalah takdir. Kita harus bisa menerimanya,”ucap Chanyeol.

“Keurae, lagipula dokter bilang tidak perlu waktu yang lama untuk memulihkan ingatan Haena. Kita harus membantunya,” tambah Jongin.

“Sunbae, bagaimana kalau kau masuk dan memperkenalkan diri pada Haena. Kau bilang, bahwa kau itu adalah namjachingunya. Anggap saja ini adalah awal!” ucap Hyori. Baekhyun diam sejenak. Entah sejak kapan, dia melupakan rasa sukanya pada Hyori. Beberapa saat kemudian, Baekhyun kembali melangkah masuk ke dalam kamar rawat inap Haena. Sementara yang lain hanya menunggu di luar dengan harap-harap cemas.

###

Hari sudah malam. Baekhyun duduk kaku di samping ranjang Haena. Haena kini sedang tertidur. Sudah empat jam kurang lebih Baekhyun duduk di sana memandangi wajah Haena. Sementara teman-teman yang lain sudah pulang saat orang tua Haena datang menjenguk. Tetapi tidak dengan Baekhyun, dia tetap berada di rumah sakit. Sampai kedua orang tua Haena pulang, karena masih ada kepentingan, Baekhyun akhirnya memutuskan untuk menemani Haena.

Aku ini bodoh ya? aku hampir saja kehilangan yeoja yang sangat aku cintai. Ya, kini aku sadar aku masih mencintainya. Sangat. Jantungku bahkan rasanya mau lepas melihatnya tertabrak. Kau ini, harusnya kau hati-hati! Batin Baekhyun.

Baekhyun diam sejenak, dengan agak canggung, Baekhyun meraih satu tangan Haena lalu menggenggamnya. Menghangatkannya dengan kedua telapak tangannya lalu menempelkannya di pipinya. “Haena-ya, ireonabwa,” ucap Baekhyun pelan. Namun ternyata dapat membangunkan Haena. Dengan perlahan, Haena membuka matanya.

Baekhyun kaget dan dengan cepat dia melepas genggamannya di tangan Haena. Dia lalu mulai bersikap wajar. Haena mengubah posisi tidurnya menjadi duduk.

“Hangat,” ucap Haena. Baekhyun mengerutkan dahi. Haena tersenyum lalu mengulang ucapannya. “Hangat, tanganmu.”

Baekhyun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia agak awkward mendengar ucapan Haena. Bagaimana bisa Haena mengatakan itu padanya?

“Apa, kita pernah punya hubungan?” Tanya Haena. Baekhyun terlihat kaget. Hubungan? Bagaimana Haena bisa berpikir seperti itu?

“Memangnya kenapa?” Tanya Baekhyun.

“Aku merasa nyaman kau berada di dekatku dan menemaniku. Ehm, nuguseyo? Ah, ani! Ireumi mwoeyo?”
“Choneun, Byun Baekhyun imnida.”
Haena terdiam. Dia memejamkan matanya. Dia teringat… suara itu…

Flashback on

Haena asyik berlari sepanjang koridor sekolah. Hingga tana sadar, dia menginjak lantai yang licin lalu terpeleset dan hampir jatuh. Untung saja seorang namja menahannya.

“Neo gwenchana?”

“Nde. Jeosonghamnida!” ucap Haena sambil segera menjauhkan diri lalu membungkuk. Dia terlihat gerogi di hadapan namja itu.

Namja itu memperhatikan Haena dari atas sampai bawah. Dia memakai seragam yang berbeda. “Kau bukan murid di sini?” Tanyanya.

“Aku, baru mau masuk ke sekolah sini. Aku baru saja diterima.”

“Wuuaaahh, chukkae! Aku harap kita bisa sering bertemu.”

“Nde?”

“Choneun, Byun Baekhyun imnida.”

Flashback off

Haena memegangi kepalanya yang agak sedikit sakit. “Aku ingat!”
Baekhyun menganga. “Jinjja?”

“Aku bertemu denganmu saat aku baru mau masuk SMA, iya kan?”
Baekhyun mengangguk. “Kau mengingatnya?”

Haena tersenyum masam lalu menggeleng. “Hanya itu yang kuingat. Mianhe. Keunde, hubungan apa yang kita miliki? Kenapa hanya kau yang menemaniku di sini? Yang lainnya mana?”

“Aku… ee… aku… Ka… kami semua adalah temanmu!” jawab Baekhyun pada akhirnya. Dia lebih memilih untuk tidak memberi tahu Haena bahwa mereka pernah menjadi sepasang kekasih.

“Ah! Jadi kalian adalah teman-temanku? Apa kalian satu SMA denganku?”

“Nde, kita selalu bersama,” jawab Baekhyun agak memelankan suaranya karena masih ragu-ragu dengan ucapannya.

“Jeongmalyeo? Pasti sangat banyak kenangan indah yang kita miliki! Aku ingin sekali bisa mengingatnya!” seru Haena yang terlihat begitu bersemangat. Tidak seperti Haena beberapa jam yang lalu, sebelum kecelakaan.

Mungkin, sebaiknya jangan. Aku yakin kau tidak akan berkata seperti itu jika tahu kenangan apa yang kita miliki, batin Baekhyun.

###

Bel masuk sudah berbunyi. Para murid segera memasuki kelasnya masing-masing. Di saat lorong-lorong koridor sekolah sudah sepi, FB5 masih diam di depan kelas mereka.

“Baekhyun tidak masuk?” Tanya Jongin.

“Keurae, sepertinya dia di rumah sakit,” ucap Chanyeol.

“Rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit?” Tanya Luhan.

“Haena, dia ditabrak mobil dan hilang ingatan,” jawab Chanyeol.

“Jinjja? Berarti, dia tidak ingat siapa itu Baekhyun?” Tanya Luhan lagi. Chanyeol hanya mengangkat bahu. Sementara Sehun ada bersama mereka, tapi dia tidak mengeluarkan sepatah katapun.

“Begini saja, bagaimana kalau pulang sekolah kita ke rumah sakit?” usuk Jongin. “Aku rasa tidak perlu, dia sudah dewasa,” ucap Sehun.

###

Para murid kelas 1-1 kini sudah duduk rapi ketika Lim sonsaengnim yang merupakan wali kelas memasuki kelas mereka.

“Perhatian semuanya! Baiklah, sepertinya ke inti saja. Seperti yang kita ketahui, teman kalian, Lee Haena kemarin baru saja tertimpa musibah. Dia kecelakaan. Untuk itu, besok, setelah pulang sekolah, sonsaengnim berencana untuk menjenguknya. Yang mau ikut, silakan acungkan tangannya!”

“Aku, saem!” ucap Hyori. Disusul oleh acungan tangan teman-teman sekelasnya.

“Arrasseo, besok siang, sonsaengnim akan ke kelas kalian. Ah, keurae! Jangan lupa persiapkan ujian kenaikan kelas!”

“Nde, sonsaengnim!”

###

Haena membuka matanya. Sinar matahari dari jendela menyilaukan pandangannya. Dia melirik ke sebelah kiri, Baekhyun tertidur dengan posisi duduk di kursi dan kepalanya yang disandarkan di samping ranjang Haena. Wajahnya tepat menghadap ke arah Haena. Dia menjaganya semalaman. Haena memandangi wajah Baekhyun. Matanya tertutup rapat. Dan tiba-tiba, kepalanya terasa pusing lagi, dia mengingat sesuatu…

Flashback on

Haena berlari kecil sambil menaiki tangga. Senyum mengembang di wajahnya. Setelah selesai menaiki tangga, Haena kembali berlari menuju kelas 3-2. Setelah sampai, dia segera memasuki kelas tersebut. Sudah kosong, tinggal tersisa seorang yang sedang tertidur dengan posisi menoleh kea rah sinar matahari. Tangannya ia jadikan sebagai sandaran.

Haena menghampiri orang tersebut lalu tersenyum geli melihatnya. “Oppa?” panggilnya. Tidak ada jawaban. Haena pun duduk di bangku sebelah orang yang dia sebut ‘oppa’ tidur. Dia tersenyum memandangi orang tersebut.

Flashback off

“Aakkhh..shh,” Haena meringis sambil mengubah posisinya menjadi duduk. Dia memegangi kepalanya sejenak. Akibat gerakannya itu, Baekhyun terbangun.

“Oppa?” ucap Haena, membuat Baekhyun kaget. Baekhyun terlihat diam saja, menunggu ucapan Haena selanjutnya. “Oppa, mengapa aku memanggilmu oppa?” Tanya Haena pada akhirnya. Baekhyun terdiam. Dia masih belum melepaskan pandangannya dari Haena.

“Jawab aku,” ucap Haena, “…oppa?”

“Aku, sebenarnya adalah…”

“Ah! Haena-ya! kau sudah bangun?”

Baekhyun dan Haena melihat kea rah pintu bersamaan. Ada Nyonya Lee di sana, berdiri dengan senyuman. “Eomma?”

Nyonya Lee tersenyum lalu menghampiri Haena. “Eomma membawakan makanan untukmu. Kau lapar?” Nyonya Lee mengelus kepala Haena pelan. Dia lalu melihat namja di sebelah Haena.

“Baekhyun-ah? Apa kau tidak ke sekolah? Kau pasti menjaga Haena di sini, ya? gomawo,” ucap Nyonya Lee ramah. Baekhyun hanya tersenyum sambil menundukkan kepala sekilas. Sementara Haena justru heran melihat eommanya bisa akrab dan bicara informal dengan Baekhyun.
“Kau bisa pulang, istirahatlah, kau pasti lelah kan?” Tanya Nyonya Jung.

“Ah, nde. Keurom, anyeonggigaseyo,” ucap Baekhyun sambil membungkuk lalu pergi. Haena diam saja. Dia sibuk menerka-nerka hubungan apa yang pernah terjadi anatara dirinya dan Baekhyun.

“Eomma.”

“Hm?”

“Baekhyun oppa itu siapa ada hubungan apa antara aku dengannya?”
Nyonya Jung yang tadinya sedang sibuk menyiapkan sarapan menghentikan kegiatannya lalu duduk di samping ranjang Haena. “Apa kau benar-benar lupa soal Baekhyun?” Haena mengangguk pelan. “Aku hanya ingat saat pertama kali kami bertemu, eomma.”

“Sebenarnya, kalian itu, berpacaran.”

“Jinjjayo? Aku sudah mengiranya.”

“Bagaimana bisa kau mengiranya?”

“Dia yang paling perhatian padaku, dia menemaniku sapanjang malam. Dia…. tampan dan manis. Aku menyukainya, eomma.”

“Keuraeyo? Tidak aneh jika kau menyukainya, dia kan memang pacarmu.”

###

Sehun dan Luhan sedang duduk berdua di café. Mereka masih saja membahas soal Hyori.

“Kau ini kenapa sih? Aku heran kenapa kau menolaknya. Kalau hanya karena alasan kau akan melanjutkan pendidikan di Tokyo, aku rasa itu tidak masuk akal. Kasihan Hyori!” ucap Luhan.

“Sebenarnya, aku bingung mau berkata apa. Setiap berada di hadapannya, aku selalu kehabisan kata-kata. Dia selalu berhasil membungkam mulutku, mebuat jantungku berdebar cepat, dan, aku merasa sesak. Karena itu aku marah. Aku marah karena dia selalu mendekatiku dan membuatku jatuh cinta padanya.”

Luhan bengong mendengar penjelasan Sehun. “Apa kau benar-benar jatuh cinta padanya?” Sehun mengangguk kaku.

“Kapan kau berangkat?”

“Minggu depan adalah hari kelulusan kan? Aku akan berangkat hari itu juga.”

“Ya, apa kau tidak akan berubah pikiran?”

Sehun menggeleng. “Lagipula, orang tuaku sudah memberi izin. Mungkin bukan izin, lebih tepatnya mengusir. Kau tahu kan keinginan orang tuaku seperti apa? Aku akan tinggal di rumah pamanku nantinya. Dia memang bukan orang kaya, dia hanya berdagang di Tokyo.”

“Lalu, bagaimana dengan Hyori? Apa kau akan melepasnya begitu saja? Kalian benar-benar sudah putus komunikasi, kalian bahkan bersikap seperti orang yang tisak saling kenal. Mau sampai kapan?”

Sehun kembali terdiam.

“Apa kau akan menyerah sebelum memberi tahu perasaanmu yang sebenarnya?”

Sehun masih diam, namun kemudian dia menjawab. “Aku akan menulis surat!”

###

TUK TUK TUK

“Masuk,” ucap Haena yang sedang membaca novel.

Pintu pun terbuka, Lim sonsaengnim terlihat membawa seluruh anak kelas 1-1 untuk menjenguk Haena. Haena menatap bingung. “Nugu?”
Lim sonsaengnim menghela nafas. “Aku adalah sonsaengnimmu di sekolah, dan ini teman-teman sekelasmu. Kau tidak ingat?”
Haena menggeleng, namun dia langsung tersenyum. “Mianhe, aku memang lupa. Keunde, aku harap kalian semua bisa membantuku untuk mengingatnya.”

“Huh, membosankan,” gumam Raekyung.

“Lalu kenapa kau ikut?” Tanya Raewoo yang mendengar gumaman Raekyung. Raekyung hanya diam lalu keluar dari kamar Haena. Tanpa mereka sadari, Raekyung menguping pembicaraan mereka semua.

“Haena-ya,” ucap Hyori sambil berjalan menghampiri Haena. Haena tersenyum tipis. “Kau tahu? Kita dulu bersahabat sangat dekat!”

“Mwoya?” gumam Raewoo, tidak suka melihat sikap Hyori. Injung yang melihat Raewoo hanya memegang pundak Raewoo. “Sudahlah, tidak ada gunanya lagi kita marah pada Hyori. Kau lihat? Dia begitu berusaha untuk memperbaiki hubungan dengan Haena. Dia ingin kita seperti dulu,” ucap Injung.

Sementara itu, Haena masih diam menunggu lanjutan ucapan Hyori. “Kita bersahabat, aku, kau, Raewoo, Injung, dan Yunhee. Kita selalu bermain bersama saat SMP. Kau ingat?” Tanya Hyori. Haena menggeleng. “Mianhe,” ucap Haena.

“Gwenchana, mulai sekarang, kita bersahabat. Arra?” Haena mengangguk lalu tersenyum ke arah Hyori yang juga tersenyum ke arahnya.

“Gomawo, Hyori-ssi.”

“Cukup Hyori saja.”

“Arrasseo, Hyori-ya.”

###

Hari-hari ujian kenaikan kelas telah berlalu. Kini, para murid tinggal menunggu hasil. Hyori, Yunhee, Raewoo dan Injung kini sudah bersiap-siap di depan gerbang sekolah untuk pergi ke rumah sakit menjenguk Haena.

“Kita pergi sekarang?” Tanya Hyori pada teman-temannya.

“Apa Haena mengerjakan ujiannya dengan baik?” Tanya Injung agak khawatir mengenai Haena yang mengerjakan ujiannya di rumah sakit, didampingi Lim sonsaengnim tentunya.

“Pasti, dia kan pintar,” ucap Raewoo yakin.

“Kajja!”

###

Haena sedang sibuk merapikan barang-barangnya. Besok, dia sudah diperbolehkan pulang. Dia tidak lagi berbaring dengan selang infuse di tangannya.

TUK TUK TUK

“Masuk.”

Pintu pun terbuka. Seorang yeoja yang masih mengenakan seragam memasuki kamar inap Haena.

“Haena-ya,” panggilnya.

“Ah, kau pasti salah satu dari teman sekelasku, ya?”

“Choneun Hwang Raekyung imnida.”

“Raekyung-ssi, bangapta! Terimakasih sudah mengunjungiku.”

“Sepertinya kau terlihat senang,” ucap Raekyung sambil mendekat ke arah Haena dengan senyum sinis. “Nde?”

“Kalian sudah berdamai rupanya.”

“Apa yang kau bicarakan, Raekyung-ssi? Aku tidak mengerti.”

“Kau dan Hyori. Apa kau bisa memaafkan Hyori begitu saja? Apa kau bisa dengan mudahnya melupakan kesalahannya?”

“Aku tidak mengerti apa maksudmu! Kesalahan apa? Bicara yang jelas!”

“Kau lupa? Hyori telah merebut Baekhyun sunbae darimu! Saat latihan untuk pementasan drama Cinderella, Baekhyun sunbae bahkan mengakui di depanmu dan teman-teman yang lain bahwa dia menyukai Hyori! Hyori sudah membuatmu putus dengan Baekhyun sunbae!”

Mendengar ucapan Raekyung, Haena jadi sakit kepala. “Akkhhh!”

“Aku tidak suka! Dia tidak pantas menjadi Cinderella, sonsaengnim!”

“Wae guraeyo, Haena-ya?”

“Kau hanya akan menjadi wanita penggoda bila kau menjadi Cinderella!”

“Aaakkkhhh! Dari mana kau tahu itu semua?!” bentak Haena. Raekyung hanya diam.

“Aku tidak tahan lagi oppa! Kau sudah berubah! Kau berubah sejak Hyori menjadi Cinderella! Kau terlihat seperti orang yang sedang jatuh cinta pada Hyori, oppa!”

“Kalau iya, bagaimana?”

“Kita putus saja oppa…”

“Ah, kau bahkan lupa dulu Hyori pernah gendut kan?” Tanya Raekyung, dia semakin berusaha membuat Haena mengingat semua kenangan buruknya.

“Aaakkkhh! Appo!” teriak Haena sambil memegangi kepalanya.

Sesaat setelah suara teriakan Haena, pintu terbuka lebar. Hyori dan teman-temannya sudah tiba.

“Haena-ya!” ucap Raewoo dan Injung dengan spontan menghampiri Haena.

“Haena-ya, neo gwenchana?” Tanya Injung panik.

“Ya, Hwang Raekyung!” bentak Yunhee. “Apa yang baru saja kau katakan padanya, huh? Neo michoseo? Apa kau ingin membunuhnya? Dia sudah hampir sembuh!”

“Aku hanya ingin Haena tahu semua kebenarannya! Terlalu mudah bagi Hyori jika Haena melupakan masalah itu begitu saja! Dari dulu, aku ingin bisa kurus dan cantik seperti Hyori sekarang. Tapi, kenyataannya aku masih tetap saja gendut! Aku iri dengannya!” ucap Raekyung penuh emosi lalu pergi begitu saja.

“Haena-ya,” panggil Hyori sambil berjalan pelan mendekati Haena. Haena tersadar, dia mendongak. “Kau, dasar wanta penggoda,” gumam Haena. Namun Hyori dapat mendengarnya.

“Mwo? Haena-ya…”

“Beraninya kau menampakkan wajahmu di hadapanku! Pergiiii!” bentak Haena yang semakin emosi dan kini ditambah dengan air matanya yang mulai keluar dari matanya yang merah.

“Lee Haena…”

“Pergiiii!!!!”

“YA! LEE HAENA!” bentak Baekhyun yang baru saja masuk.
Haena kini mengambil vas bunga dan berniat melepmarkannya ke arah Hyori. Tapi untung saja Baekhyun segera menahannya dengan tangannya hingga vas itu terjatuh.

PRAANG

“Lepaskan aku!”

“Shireo!” Baekhyun lalu memeluk Haena. Tentu saja Haena melakukan perlawanan. Berkali-kali ia memukuli dada Baekhyun.
“Jebal, jangan seperti ini, Haena-ya. jangan marahi teman-temanmu! Mereka tidak bersalah, termasuk Hyori! Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi, eoh? Saranghae! Jeongmal saranghaeyo, Haena-ya. mianhe!”

Mendengar perkataan Baekhyun, Haena mulai berhenti memukuli dada Baekhyun. Dia kini justru memperkeras suara tangisnya. Sementara Baekhyun yang mulai berkaca-kaca mempererat pelukannya sambil mengelus-elus kepala Haena. Hyori, dan teman-teman yang lainnya tidak kuasa lagi menahan air mata saat itu. Mereka semua menangis.

###

Hari kelulusan pun tiba. Semua saling memberi selamat. Berbeda dengan murid yang lain, FB5 kini sudah dikerubungi para siswi-siswi yang ingin meminta tanda tangan.

“Sehun-ah, kapan kau berangkat?” Tanya Luhan sambil sibuk memberi tanda tangan.

“Sore ini,” jawab Sehun yang justru enggan memberikan tanda tangannya.

“Bagaimana dengan Hyori?”

Sehun terdiam, dia mulai berjalan menjauh dari kerumunan. Luhan mengikutinya dengan susah payah sambil meminta maaf kepada para siswi yang tidak sempat ia beri tanda tangan.

“Aku titip ini,” ucap Sehun sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna biru ke arah Luhan. Luhan menerimanya dengan ekspresi bingung. “Ige mwoya?”

“Itu untuk Hyori.”

“Kau memang payah!”

“Aku memang payah! Aku tidak berani memberinya langsung.”

“Arra, aku akan membantumu. Tenang saja!”

“Gomawo.”

###

“Akhirnya! Kita naik kelas!” seru Injung begitu riang. Teman-temannya yang lain hanya tersenyum dan tertawa. Mereka terlihat begitu bahagia, apalagi Haena bersama mereka sekarang.

“Kim Yunhee.”

Yunhee menoleh ke belakang. Luhan yang memanggilnya. Yunhee diam sebentar lalu menghampiri Luhan. “Wae gurae?”

Luhan menarik lengan Yunhee untuk menjauh dari teman-temannya.
“Ini.”

“Ige mwo?”

“Berikan ini pada Hyori.”

“Dari Sehun sunbae?” Luhan mengangguk.

###

Hyori dan Yunhee berjalan dalam keheningan. Mereka baru saja pulang. Hari sudah menjelang malam. Sesekali Yunhee menoleh ke arah Hyori yang terlihat beitu murung.

“Yunhee-ya,” panggil Hyori. Suaranya bergetar. Sepertinya dia akan menangis. “Eotokhe? Sehun sunbae benar-benar meninggalkan sekolah! Aku benar-benar gagal! Usahaku selama ini… apa artinya?” Hyori benar-benar menangis.

Yunhee merogoh saku seragamnya lalu mengeluarkan amplop berwarna biru pemberian Luhan. “Bacalah ini.”
Hyori meraih kertas itu lalu membukanya perlahan.

Untuk Shin Hyori,

Apa surat ini membuatmu kaget? Haha XD mianhe. Aku bingung harus bagaimana mengatakannya. Jujur saja aku menulis surat ini semalaman. Dan tujuanku hanya satu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa, sebenarnya, aku sudah menyukaimu sejak pandangan pertama.

Kau ingat? Saat kau menghalangi objek fotoku dengan tubuh gendutmu itu? Sebelumnya, aku tersenyum geli. aku pura-pura marah karena gugup. Kau begitu lucu dan menggemaskan. Sangat manis di mataku. Di saat pertama kali kau menyebut namaku, aku yakin kau tidak akan percaya, aku, sangat gugup. Dan saat kau memberikan hasil gambaran wajahku, aku tersanjung, kau bahkan sampai menggambarnya.

Aku pun mengambilnya dan berharap kau segera pergi. Tapi kau banyak sekali bicara, sehingga aku bingung harus bagaimana mengusirmu. Karena, jika kau tidak pergi, jantungku akan terus berdebar cepat. Dan akhirnya aku terpaksa berkata ‘aku tidak suka yeoja gendut’.

Saat aku melihatmu berlatih drama dan mengenakan kostun serta make up, kau terlihat begitu cantik. Aku selalu mengambil gambar-gambar dirimu dengan kameraku. Namun, baginilah aku, terlalu gugup dan gengsi. Jadi aku hanya berkata ‘Dia biasa saja, tidak ada perubahan. Hanya Cinderella yang gendut’.

Andaikan kau tahu, hatiku sakit saat tahu Baekhyun menyukaimu. Dan saat aku tidak sengaja menyerempetmu dengan motorku aku ingin sekali menolongmu, tapi aku melihat Baekhyun yang berjalan menghampiri untuk menolongmu.sungguh, aku tidak ingin kau menganggapku ‘jahat’ atau ‘tidak punya hati’.

Semua kata-kata kasar yang keluar dari mulutku, itu tidak berasal dari perasaanku. Tapi dari pikiranku yang emosi karena tidak bisa melupakanmu.

Dan saat aku melihat perubahan pada dirimu, aku sungguh terpesona. Kau begitu cantik. Jujur. Tapi aku terlalu gengsi untuk memujimu. Lagipula, aku juga bukan orang yang romantis. Aku bahkan terkadang benci dengan sifatku yang sulit dihilangkan ini.

Dan, hari ini, sore ini, aku berangkat ke Tokyo untuk meneruskan pendidikan fotografiku. Aku harap kau tidak sedih. Aku akan kembali. Pasti. Dan pastikan kau menungguku sampai aku kembali. Sengaja aku tidak berpamitan denganmu. Karena jujur, aku paling benci perpisahan. Aku tidak ingin melihatmu menangis karena kepergianku.

Aku akan kembali. Pastikan kau menungguku. Arra?

Saranghae^^

Oh Sehun

Hyori tidak bisa menahan tangisnya yang sudah membasahi pipinya. Dia lalu melihat isi amplop yang lain. Ternyata itu foto-foto dirinya saat latihan dan pementasan drama, saat dia bercanda dengan teman-temannya di kelas, di kantin, saat dia sedang duduk sendirian, dan masih banyak beberapa foto lainnya. Entah kapan sehun mengambilnya. Namun foto-foto itu dapat membuat Hyori tersenyum. “Nado saranghaeyo, pabo sunbae!”

###

Sehun yang kini sudah berada di pesawat pun tak bisa lagi menahan air matanya. Suara berat tangisnya mulai terdengar. “Hyori-ya, Mianhe,” ucapnya sambil terisak.

#END#

Waaaahahahaaaaaa *evil laugh
Aku yakin readers pada ngga setuju kalo ini adalah ending, iya kan? /sotoy/
Ini endingnya emang ngegantung dan maksa banget ._.v
Maaf ya…..
Banyak typo? Maklumin aja, tengah malem ngetiknya -_-
Adakah yang menginginkan sequel? *krikrikrik
Komen dulu aja deh yang penting^^
Komen ya? harus! *ngancem

Advertisements

41 thoughts on “[Chaptered] Beautiful Tubby (Chapter 5/END)

  1. thor kok ffnya sedih ya … Endingnya asli nyebelin banget, sequel harus ada kalo gak aku demo thor #ngancem …

  2. Sebenarnya aku agak kecewa sama part ini ._. Kenapa ga ada part romantis antara Sehun dan Hyori? Tapi gapapa deh, akhirnya selesai juga 😀 author daebak! ^^

    1. rencananya emang aku mau bikinin sequelnya.
      bukan rencana lagi sih, emang lagi dibuat. tapi kalo untuk lebih romantis, aku ngga janji ya ._.v
      makasih udah komen^^

  3. astagfirullahaladzim….. #istigfar #warungbusehunbarumuncul #mampus
    raekyungnya nyebelin ye. sequel dah .-.

  4. Hmm sepertix aku udh komen,tpi ko ndak ada nama ku.. Hehehe mian tor ini kedua kalix aku komen dsni dg nma yg sma tntux dn email yg brbeda. Utk mnghormati autor yg sdah buat ff ini,aku hanya ingin sequel tor. Ini sungguh menakjupkan.. 😀

  5. huwaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    ending cepat banget ..
    dan apa nih .. kok sehun gitu aja ..
    mereka jadian kagak tuh ..
    masih bingung nih ..

    thor judul lanjutan ff ini apa thor ..
    jangan lupa kasih tau kami tau ya thor ..
    gomawo .. walaupun ending nya gitu ..tapi tetap bagus kok thor …

  6. sehun kenapa gak langsung bilang ke hyori aja sih.???by the way,,ff nya keerreenn bbaanngggeett loh, aku suka aku suka,, !! 😀 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s