Chaptered · FanFiction

[Chaptered] Is It Too Late? (Chapter 1)


is-it-too-late

Title : Is It Too Late? (Chapter 1)

Casts :

  • [APink] Son Naeun
  • [Infinite] Kim Myungsoo
  • Kim Soohyun (Actor)
  • [Miss A] Bae Sooji

Genre : Romance, Fantasy

Rated : PG 15

Length : Chaptered

Disclaimer : inspired from a movie “Enchanted”, a Korean Drama “Rooftop Prince”, and some fan fictions.

Poster : Ettaeminho

Summary :

Son Naeun adalah seorang gadis cantik biasa yang hidup pada masa dinasti Joseon. Ia hidup bersama ayahnya, karena ibunya sudah meninggal. Ayahnya pun hanya seorang tukang kebun yang bekerja merawat kebun istana. Namun. Karena kecantikan dan kesopanan Naeun lah, ia bisa memikat hati pangeran tampan bernama Kim Soohyun. Akan tetapi, tak lama setalah perkenalan mereka, hal buruk menimpa keluarga Naeun. Ayahnya diduga telah membunuh raja. Hal itu membuat Naeun menjadi incaran pihak kerajaan karena ayahnya menghilang entah kemana. Naeun akhirnya melarikan diri dari kejaran para pasukan kerajaan. Karena sebuah kecelakaan, Naeun pun terjerumus ke dalam sebuah lubang yang membawanya ke masa depan. Tempat dimana ia beremu dengan keluarga kecil, seorang duda dengan satu anak yang baru saja ditinggal mati istrinya, Kim Myungsoo.

 

 

=Chapter 1=

 

Joseon, 1832.

 

Matahari bersinar begitu teriknya. Sebentar lagi adalah musim panas, pantas saja hari ini begitu panas. Sudah berkali-kali Naeun menyeka peluh yang bercucuran di dahinya. Tapi, itu semua tidak membuatnya berhenti untuk terus memetik daun-daun tanaman obat yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit asma ibunya. Karena keterbatasan, keluarga Naeun bahkan tak sanggup untuk sekedar mengundang tabib, karena mereka tidak mempunyai harta benda yang cukup untuk membayarnya. Akhirnya Naeun memutuskan untuk mencari sendiri tanaman obat untuk ibunya. Sementara ayahnya masih sibuk bekerja menjadi tukang kebun di istana.

Berbeda dengan beberapa gadis lain di desanya yang sedang sibuk mempersiapkan diri untuk pemilihan calon istri pangeran kerajaan, Naeun justru kini sibuk merawat ibunya yang sakit. Lagipula, Naeun tidak terlalu tertarik dengan hal seperti itu. Ia memang ingin tinggal di istana yang mewah, tetapi, melihat keadaan keluarganya saat ini, ia lebih memilih membantu orang tuanya. Lagipula, hanya gadis-gadis yang cantik dan pintar saja yang bisa menjadi calon istri pangeran. Naeun cukup sadar diri, ia tidak secantik mereka, yang bisa dengan mudahnya terpilih menjadi calon istri pangeran.

Setelah merasa daun-daun yang dipetiknya cukup, Naeun segera mengangkat keranjangnya, lalu menjinjingnya sembari berjalan kembali ke rumahnya. Di tengah perjalanannya, ia dikejutkan oleh datangnya beberapa pengawal yang berjalan mengiringi sebuah kereta kuda berhenti tepat di hadapannya. Naeun sudah tahu, pasti keluarga kerajaan yang berada di dalamnya. Namun, ia mendadak terkejut ketika melihat ternyata yang menaiki kereta tersebut adalah pangeran Kim Soohyun. Pangeran Soohyun pun turun dari kereta kudanya lalu berjalan menghampiri Naeun yang masih terdiam. Dengan sopan, Naeun membungkukkan badannya.

Ireumi mwoeyo?”

Naeun mengangkat kepalanya terkejut karena pengeran tiba-tiba menanyakan namanya. Dengan gugup, Naeun pun menjawab, “Joneun, Son Naeun imnida,” sambil kembali membungkuk.

Pangeran Soohyun tersenyum melihat kesopanan Naeun. Jarang sekali ada gadis desa yang bisa sesopan ini padanya, ya, bagaimana tidak. Pangeran Soohyun memang terbilang sangat tampan, sehingga, banyak gadis yang tidak terpikirkan untuk bersikap hormat kepada sang pangeran. Beberapa diantara mereka justru tersenyum, terkejut, bahkan kadang menjerit histeris melihatnya.

Yeogiseo mwohaeyo?”

Naeun semakin terkejut ketika pangeran Soohyun kembali melontarkan pertanyaan padanya. Sambil melihat ke arah keranjangnya, Naeun kembali menjawab, “Aku memetik daun tanaman obat.”

“Untuk siapa?”

Eommaku, sedang sakit, Taeja Jeonha.”

Pangeran Soohyun tersenyum mengetahui kegiatan Naeun. “Kau anak yang berbakti rupanya, ya? Tapi kenapa kau masih di sini? Para gadis di desa sudah sibuk mempersiapkan diri mereka untuk pemilihan calon istriku. Apa kau tidak mempersiapkan diri juga?”

“Aku tidak mengikutinya, Taeja Jeonha.”

Waeyo?”

“Aku tidak terpilih.”

“Bagaimana kalau kau mengikutinya? Aku yakin kau akan terpilih. Aku ingin istana mempunyai ratu sebaik dirimu.”

===

 

Seoul, South Korea, 2014.

 

Seorang lelaki berjas hitam sibuk merapikan meja kerjanya begitu menerima telepon dari pihak rumah sakit. Dengan tergesa-gesa, ia keluar dari ruangannya lalu bergegas menaiki lift. Namun sayangnya, lift sudah sangat penuh. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk menaiki tangga darurat. Begitu sampai di basement, lelaki tampan itu langsung membuka kunci mobilnya, menaikinya, menyalakan mesinnya, lalu melajukan mobilnya dengan cepat. Peluh dingin kini mulai membasahi pelipisnya. AC mobilnya bahkan seolah tak berguna untuk saat seperti ini. Sambil terus menggigiti bibir bawahnya, ia meraih ponselnya yang ia letakkan pada dashboard mobilnya. Setelah menekan nama kontak, ia segera menempelkan ponselnya ke telinganya.

Yeoboseyo? Jisoo-ya, neo eodiya?” tanyanya begitu panggilannya dijawab dengan nada bicara yang jelas sekali panik.

Wae geuraeyo, Appa? Aku ada di rumah.”

“Kau jangan kemana-mana, ya? Appa akan pulang agak terlambat hari ini, arasseo?”

Ne.”

Keurom, Appa tutup telponnya, ya.”

Setelah mengakhiri panggilan, ia pun semakin mempercepat laju mobilnya agar segera tiba di rumah sakit.

“Jiyeon-ah, kau harus bertahan. Kau harus baik-baik saja. Jebal, bertahanlah.”

Setelah melalui jalan raya yang tidak terlalu macet, akhirnya sampailah ia di rumah sakit. Lelaki itu segera berlari memasuki rumah sakit. Setelah bertanya pada resepsionis, ia pun segera berlari menuju ruang UGD yang ternyata masih tertutup rapat. Ia mengacak rambutnya frustasi lalu duduk di ruang tunggu.

“Ayolah Jiyeon, kau harus bertahan,” gumamnya yang semakin gelisah.

Setelah beberapa menit kemudian, seorang dokter dan beberapa perawat lainnya keluar dari dalam ruang UGD. Segera ia pun bangkit menghampiri sang dokter.

“Apa anda–“

Keurae, aku Kim Myungsoo, aku suaminya. Bagaimana keadaannya, dok? Dia baik-baik saja, kan, dok?!” tanya lelaki dengan nama lengkap Kim Myungsoo itu sambil mengguncang bahu sang dokter. Ia sudah terlalu panik akan hal ini.

Sambil menurunkan tangan Myungsoo yang hampir mencengkram kerahnya itu, dokter muda itu akhirnya menjawab, “Joisonghamnida, kamu sudah berusaha semampu kami. Tapi nyawanya tidak dapat tertolong. Jeongmal joisonghamnida.”

Mendengar jawaban dari dokter, Myungsoo justru hanya tertawa. Tawanya lebih seperti tertawa getir. Tentu ia merasa terpukul mengetahui istrinya yang paling ia cintai baru saja meninggalkannya. Meninggalkan ia dan anak mereka untuk selamanya. Tetapi, karena masih belum percaya perkataan dokter, Myungsoo berniat untuk berlari memasuki UGD. Namun untungnya beberapa perawat segera mendegahnya. Tangisan Myungsoo pun memecah saat itu juga.

ANDWAE! PARK JIYEON, TTEONAJIMA! ANDWAE!

===

 

Joseon, 1832.

 

Naeun baru akan memasuki rumahnya ketika tiba-tiba ayahnya berdiri tegak menghalangi pintu masuk sambil menatapnya tajam. Naeun tidak mengerti apa yang dimaksud ayahnya. Namun, ketika Naeun hendak masuk, ayahnya justru menghadangnya.

“Dari mana saja kau, huh?”

“Aku dari hutan mencari obat untuk Eomma.”

Huh, obat? Kenapa lama sekali? Apa kau ke hutan bukan hanya untuk mencari obat? Kau tahu? Ibumu baru saja meninggal!”

Naeun mengerutkan dahinya. Ia tidak percaya dengan perkataan ayahnya yang terdengar tidak terlalu serius itu. Tidak mungkin ibunya mninggal ia sudah mencari obat untuk ibunya, bagaimana bisa ibunya meninggal. Naeun yakin ibunya akan segera sembuh setelah meminum obat dari dedaunan yang baru saja ia ambil dari hutan.

Appa, aku mau masuk. Aku harus segera memberi Eomma obat,” ucap Naeun yang seolah tak mendengar perkataan ayahnya.

“Obat? Untuk apa?! Eomma sudah meninggal, Son Naeun! Dia sudah tidak ada!”

Tanpa berniat untuk membalas perkataan ayahnya, Naeun langsung saja memasuki rumahnya sambil tak sengaja menubruk tubuh ayahnya yang masih menghalangi jalan. Sesampainya di kamar ibunya, Naeun bisa melihat ibunya memejamkan matanya, kulitnya pucat, dan perutnya tidak terlihat mengembang ataupun mengempis. Mendadak jantung Naeun berdetak lebih cepat ketika ia mendekatkan jarinya pada hidung ibunya. Tidak ada napas yang keluar dari sana. Bahkan, kulitnya pun sangat dingin.

Andwae! Eomma! Ireonha Eomma, jebal! Ireonha! EOMMA!”

Kini Naeun tidak bisa lagi mengendalikan emosinya, tangisannya pun memecah saat itu juga. Sambil terus menerus mengguncang tubuh ibunya yang sudah tidak akan bergerak lagi.

“Bagaimana bisa kau meninggalkanku secepat ini, Eomma? Aku baru saja mengambil obat untukmu, kau harus meminumnya agar cepat sembuh, Eomma!”

Naeun terus mengguncang tubuh ibunya diiringi tangisannya yang semakin keras saja. Sementara itu, ayahnya hanya bisa menatap iba dengan mata yang berkaca-kaca dari kejauhan.

“Aku tahu, ini bukan salahmu, Naeun-ah. Aku melihatnya, pangeran itu mengajakmu mengobrol cukup lama, sehingga kau terlambat menyelamatkan ibumu.”

===

 

Seoul, South Korea, 2014.

 

Appa!”

Myungsoo tersentak ketika mendengar suara Jisoo, anak perempuannya memanggilnya dengan suara yang menggema di sepanjang koridor rumah sakit. Jisoo yang baru berumur empat tahun itu berlari kecil ke arah Myungsoo yang masih diam duduk di kursi tunggu, entah menunggu apa. Tidak ada lagi yang bisa ia tunggu. Istrinya telah pergi.

Ternyata Jisoo tidak datang sendirian. Ia ditemani oleh Sooji. Sooji terlihat begitu akrab menggandeng tangan kecil Jisoo. Tak heran, karena Sooji memang teman dekat Jiyeon dan juga Myungsoo. Ekspresi yang ditunjukkan Jisoo sangatlah polos, berbeda dnegan Sooji yang kini panik setengah mati.

“Kemarilah, Kim Jisoo!” ucap Myungsoo seraya menggendong tubuh anak perempuannya lalu memeluknya begitu erat seakan tidak mau melepasnya.

Wae geuraeyo, Appa?” tanya Jisoo yang masih dalam pelukan erat Myungsoo. Myungsoo hanya menggelengkan kepalanya sambil terus mempererat pelukannya pada anak perempuannya itu.

Eomma dimana?”

Myungsoo mendadak merenggangkan pelukannya dengan Jisoo. Ditatapnya nanar kedua mata anaknya yang masih menatapnya polos itu. Rasanya ia tak tega jika langsung memberi tahu kebenarannya pada Jisoo, bahwa Jiyeon telah meninggal. Tapi mau bagaimana lagi? Jisoo tetap harus tau kenyataannya. Bahwa ibunya, tidak akan pernah lagi pulang ke rumah.

“Jisoo-ya, berjanjilah kau akan menjadi anak yang baik walau tanpa Eomma.”

Jisoo mendadak mengerutkan dahinya yang kecil itu sambil menatap ayahnya penuh tanya.

Waeyo? Kenapa aku harus hidup tanpa Eomma? Bukankah Eomma akan selalu bersamaku?”

Myungsoo pun pada akhirnya gagal untuk membendung air matanya. Dan kini, ia harus menangis seperti bayi di hadapan anaknya sendiri untuk yang pertama kalinya. Rasanya sulit memberi tahu hal seperti ini pada anak yang baru berumur lima tahun seperti Jisoo.

“Jisoo-ya, Eomma sudah pergi. Jadi, kau jangan mencarinya lagi, arachi?”

Wae? Kenapa tidak boleh? Memangnya Eomma pergi kemana?”

Myungsoo menghela napas sejenak, mencoba menghentikan tangisnya lalu berkata, “Eomma sudah pergi meninggalkan dunia ini. Dia,” Myungsoo kembali menghela napas sejnak begitu air matanya kembali turun lalu melanjutkan, “sudah meninggal.”

“Meninggal? Apa maksud Appa mati? Seperti kucing milik keluarga Jang tetangga kita?”

Mendengar pertanyaan anaknya sekaligus daya ingatnya yang tinggi, Myungsoo hanya bisa mengangguk lemah. Belum ada tanda-tanda sedih pada wajah polos Jisoo memang. Namun perlahan, anak itu mulai terdiam. Entah, ia tak bicara sama sekali.

“Jisoo-ya,” panggil Myungsoo. Namun Jisoo tidak menyahut.

“Kim Jisoo, kau kenapa?”

Appa pernah bilang kalau orang atau hewan yang sudah mati tidak akan bisa hidup lagi. Apa Eomma juga begitu? Tidak, kan? Sebenarnya Eomma kenapa? Appa, aku ingin menemui Eomma!”

Melihat anaknya yang mulai menangis membuat Myungsoo semakin sedih saja. Bagaimana bisa Jiyeon meninggalkan Jisoo disaat anak ini masih sangat membutuhkan sosok seorang ibu? Myungsoo sangat ingin Jiyeon kembali, tetapi tentu saja mustahil.

“Sooji-ya, kau sudah menelepon orang tua Jiyeon?” tanya Myungsoo yang baru teringat soal mertuanya.

Sooji hanya mengangguk tanpa berkata sepatah katapun. Ia ingin mencoba menghargai situasi. Melihat ini semua, Sooji jadi ikut sedih. Bagaimanapun, Jiyeon juga adalah sahabatnya.

===

 

Joseon, 1832.

 

Naeun baru saja bangun dari tidurnya ketika ia sudah dikepung oleh para pengawal kerajaan. Terkejut. Tentu saja. Ia kini masih berada di dalam kamarnya. Bagaimana bisa para pengawal itu berada di dalam kamarnya? Lagipula ini masih pagi. Naeun tidak mengerti maksud dan tujuan para pengawal itu mengepungnya.

Joisonghaeyo, apa yang sedang terjadi? Kenapa kalian berada di sini?” Naeun mencoba bertanya selembut mungkin karena takut tiba-tiba mereka mengacungkan senjata tajam mereka dan mengarahkannya ke wajahnya. Melihatnya saja, Naeun sudah merinding ketakutan.

“Cepat beritahu dimana Son Heedong!”

Naeun terkejut ketika salah seorang pengawal itu menyebut nama ayahnya. Apa yang terjadi? Kenapa mereka mencari ayahnya? Lagipula, bukankah ayahnya bekerja di kebum istana, kenapa bukan mencari ke istana saja? Aneh.

“Cepat jawab dimana ayahmu kalau kau masih ingin hidup!”

Kini senjata tajam itu benar-benar diacungkan ke arah Naeun. Mengetahui keadaan seperti ini, tentu ia semakin takut.

“Ada perlu apa kalian mencari ayahku?”

“Masih sempat bertanya disaat genting begini? Lebih baik kau cepat serahkan pembunuh itu pada kami! Jangan bantu dia untuk bersembunyi!”

“Pembunuh? Aniyo, kalian salah! Ayahku bukan pembunuh!”

“Jangan banyak basa-basi! Jelas-jelas ayahmu membunuh raja pagi ini! Cepat tunjukkan dimana ayahmu! Cepat bangun!”

Dengan kasar, para pengawal itu menarik tubuh Naeun lalu mendorongnya keluar kamar. Para pengawal itu memerintah Naeun untuk mencari ke seisi rumah. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Naeun untuk mencari ayahnya di rumahnya yang kecil. Tapi sayangnya, ayahnya tidak ada di rumah. Naeun semakin ketakutan. Ia takut senjata-senjata yang dipegang para pengawal itu tiba-tiba menancap pada tubuhnya. Membayangkannya saja sudah mengerikan. Karena tidak percaya dengan perkataan Naeun, akhirnya para pengawal mulai lengah karena mereka juga ikut mencari.

Tentu saja Naeun memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri. Ia pun berlari kencang menjauhi rumahnya hingga ia bisa mendengar para pengawal yang menyuruhnya agar berhenti. Naeun tidak peduli. Ia harus menyelamatkan nyawanya sekarang. Ia masih ingin hidup. Setelah berhasil melarikan diri, Naeun akan mencari dimana ayahnya yang tiba-tiba saja menghilang itu. Naeun bahkan masih tak habis pikir kenapa ayahnya bisa sampai membunuh raja. Namun, begitu menyadari larinya melambat karena melamun, Naeun kembali mempercepat langkahnya dan kini ia memasuki hutan. Semakin dalam dan semakin dalam saja ia masuk ke dalam hutan. Para pengawal kerajaan itu pun masih saja mengikutinya. Hingga tiba-tiba, Naeun merasa ia menginjak sebuah jebakan. Ia pun jatuh ke dalam lubang. Lubang yang sangat dalam. Naeun bahkan tidak merasa lubang itu berujung. Naeun terus terjerumus ke dalam lubang semakin dalam dan semakin dalam. Pada akhirnya, ia tiba di sebuah tempat yang sempit dan pengap. Tapi untungnya, para pengawal itu tak lagi mengejarnya.

===

 

Seoul, South Korea, 2014.

 

“Myungsoo-ya, kami pulang duluan, ya,” ucap seorang wanita paruh baya yang berdiri bersebelahan dengan suaminya yang sibuk menenangkannya karena tak berhenti menangis melihat batu nisan yang kini berada di atas makam anaknya.

Ne, Eommonim, Abeonim. Mianhaeyo, aku kurang peduli terhadap Jiyeon. Seharusnya aku melindunginya dan tidak membiarkan kecelakaan ini terjadi,” ucap Myungsoo merasa bersalah sambil membungkuk.

“Sudahlah, ini bukan sepenuhnya salahmu. Lagipula ini semua sudah menjadi takdir Jiyeon. Kau jangan menyalahkan dirimu terus, itu justru membuat Jiyeon sedih,” ucap Tuan Park. Myungsoo hanya mengangguk lalu membungkukkan badannya sekali lagi sebelum akhirnya kedua mertuanya itu pergi meninggalkan pemakaman.

Tersisalah dirinya dan Jisoo yang masih mematung menatap foto Jiyeon yang tampak tersenyum dengan begitu bahagianya. Ingin sekali Myungsoo melihat senyuman itu lagi secara nyata. Tapi semuanya sudah terjadi. Jiyeon sudah pergi dan membawa senyumannya. Myungsoo mengalihkan pandangannya pada Jisoo yang ternyata juga masih belum bisa berhenti memperhatikan foto ibunya.

Appa, ayo kita pulang. Biarkan Eomma beristirahat dengan tenang.”

Myungsoo terkejut sekaligus terharu mendengar ucapan Jisoo. Namun pada akhirnya, ia pun mengangguk lalu menggandeng tangan Jisoo pergi meninggalkan area pemakaman. Membiarkan Jiyeon tenang di peristirahatan terakhirnya.

===

Jisoo memasuki kamarnya dengan wajah lesu. Ia jadi merindukan ibunya pada saat seperti ini. Ini sudah malam, biasanya ibunya akan masuk kamar lalu membacakan cerita untuknya sebelum tidur. Tapi sekarang, ibunya sudah tiada. Dengan menghela napas, Jisoo berjalan ke arah lemari pakaiannya untuk mengganti baju yang ia pakai dengan piyama. Namun, betapa terkejutnya ia ketika melihat ternyata ada seorang gadis berpakaian hanbok sedang tertidur di dalam lemari pakaiannya.

“AAAAAAAAA!”

Teriakan Jisoo pun terdengar oleh Myungsoo. Pintu kamar Jisoo langsung terbuka lebar oleh ayahnya itu. Dan Myungsoo, tentu sama terkejutnya dengan Jisoo. Sementara gadis yang tadinya tertidur itu kini menjadi terbangun karena mendengar teriakan Jisoo.

Ya, neo nuguya?!”

Gadis itu menatap Myungsoo yang masih tampak sangat terkejut. Dengan santainya, gadis itu menjawab. “Joneun, Son Naeun imnida,” ucapnya sembari keluar dari lemari pakian Jisoo lalu membungkukkan badannya sopan. Myungsoo mengerutkan dahinya melihat pakaian yang dikenakan Naeun. Gadis itu mengenakan hanbok dengan gulungan rambutnya yang agak berantakan karena baru terangun dari tidurnya.

Apa dia orang gila? Bagaimana bisa dia masuk ke dalam rumah orang dengan keadaan seerti itu? Batin Myungsoo.

“Aku tidak kenal kau, dan aku tidak ingin tahu siapa kau. Jadi lebih baik, sekarang kau pergi dari rumahku!”

Naeun tersentak mendengar bentakan dari Myungsoo. Menurutnya, itu sangat mengerikan.

“Tidak bisakah kau bicara lebih halus? Aku bahkan tidak tahu ini rumahmu.”

Myungsoo hanya memutar bola matanya lalu mencibir kesal. Ia lalu menatap Naeun dari atas sampai bawah. Gadis itu bahkan mengenakan alas kaki dari jaman dahulu. Myungsoo berpikir mungkin gadis itu sedang mengimkuti pesta atau festival. Tapi, bagaimana bisa Naeun masuk ke rumahnya? Myungsoo bahkan sudah mengunci pintu rumahnya.

Kini Naeun justru terlihat keheranan dengan keadaan sekitarnya. Ia mulai sibuk memperhatikan perabotan dan barang-barang di kamar Jisoo, seolah ia melihat benda-benda asing. Yang paling menarik perhatiannya adalah tempat tidur Jisoo. Dengan langkah pelan, Naeun menghampiri tempat tidur itu lalu duduk di atasnya. Rasanya sungguh empuk. Naeun baru akan bermain-main di atasnya kalau saja Myungsoo tidak membentaknya.

Joisonghaeyo, agasshi! Sepertinya anda lebih baik keluar daripada membuat keributan di rumahku!”

“Rumahmu? Bagaimana bisa kau memiliki tempat tidur yang lebih bagus daripada di istana?”

Mwo? Mworaguyo? Neo michoseo?”

=To Be Continued=

 

Makasih udah mau baca, maaf kalo masih ada typo. Tinggalkan komentarnya ya^^

Kalo komennya banyak, aku usahain chapter 2 nya cepet update.

Advertisements

12 thoughts on “[Chaptered] Is It Too Late? (Chapter 1)

  1. huaaaaa >< cie.ciee ff baruuuu… rame rameee, bahasanya lebih santaai.. aku juga gak nemu typo 0.0 cast nya bagus.xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s