Chaptered · FanFiction

[Chaptered] Is It Too Late? (Chapter 2)


is-it-too-late

Title : Is It Too Late? (Chapter 2)

Casts :

  • [APink] Son Naeun
  • [Infinite] Kim Myungsoo
  • Kim Soohyun (Actor)
  • [Miss A] Bae Sooji

Genre : Romance, Fantasy

Rated : PG 15

Length : Chaptered

Disclaimer : inspired from a movie “Enchanted”, a Korean Drama “Rooftop Prince”, and some fan fictions.

Poster : Ettaeminho

Summary :

Son Naeun adalah seorang gadis cantik biasa yang hidup pada masa dinasti Joseon. Ia hidup bersama ayahnya, karena ibunya sudah meninggal. Ayahnya pun hanya seorang tukang kebun yang bekerja merawat kebun istana. Namun. Karena kecantikan dan kesopanan Naeun lah, ia bisa memikat hati pangeran tampan bernama Kim Soohyun. Akan tetapi, tak lama setalah perkenalan mereka, hal buruk menimpa keluarga Naeun. Ayahnya diduga telah membunuh raja. Hal itu membuat Naeun menjadi incaran pihak kerajaan karena ayahnya menghilang entah kemana. Naeun akhirnya melarikan diri dari kejaran para pasukan kerajaan. Karena sebuah kecelakaan, Naeun pun terjerumus ke dalam sebuah lubang yang membawanya ke masa depan. Tempat dimana ia bertemu dengan keluarga kecil, seorang duda dengan satu anak yang baru saja ditinggal mati istrinya, Kim Myungsoo.

 

 

=Chapter 2=

Mwo? Mworaguyo? Neo michoseo?”

Naeun sepertinya tidak menghiraukan perkataan Myungsoo. Ia kini justru berjalan keluar dari kamar Jisoo. Dengan tatapan kagum, ia melihat ke sekeliling rumah Myungsoo. Sesekali ia menyentuh pajangan dan perabotan rumah Myungsoo yang menurutnya asing. Bagaimana tidak? Ia hidup di tahun 1832, pada masa dinasti Joseon. Sedangkan kini ia berada di tahun 2014, dan ia sendiri belum menyadarinya.

Myungsoo hanya bisa terus memijat pelipisnya melihat Naeun yang terus berjalan-jalan mengelilingi rumahnya dengan tampang keheranan. Rumah Myungsoo memang cukup mewah, tapi tidak terlalu mewah juga. Ia sendiri sampai heran, kenapa gadis seperti Naeun seolah baru pertama kali melihat rumah seperti ini. Apalagi melihat baju yang dikenakannya itu. Apa ia baru saja menghadiri pesta? Kenapa memakai hanbok seperti itu? Dan juga, kenapa gadis itu berbicara soal istana? Aneh sekali.

Jogiyeo, agasshi, bisakah kau berhenti berkeliling? Dan, Jangan sentuh itu!” ucap Myungsoo yang mendadak terkejut ketika Naeun hendak mengambil foto Jiyeon yang berada di ruang keluarga.

Dengan gerak cepat, Myungsoo meraih foto itu sebelum diambil Naeun. Sementara Naeun justru kebingungan. Namun kini ia justru mengalihkan pandangannya pada foto-foto lainnya. Ada foto Myungsoo, Jisoo, Myungsoo dan Jiyeon, juga foto ketiganya yang tertawa bahagia. Naeun pun meraih foto Myungsoo yang tampak tersenyum tipis itu. Dipandangnya foto itu dan wajah Myungsoo secara bergantian.

“Bagaimana bisa begitu mirip?” tanya Naeun. Sementara Myungsoo justru mengerutkan dahi.

Ne?”

“Kau yang melukis gambar ini? Bagaimana bisa begitu mirip? Hebat sekali!” ucap Naeun sambl berdecak kagum.

Myungsoo semakin heran melihat sikap Naeun. Apa dia bercanda? Lukisan? Jelas-jelas itu sebuah foto. Myungsoo kini berpikir bahwa Naeun sepertinya mengalami gangguan jiwa. Bagaimana bisa gadis itu membicarakan soal istana, raja, dan sekarang? Ia pikir sebuah foto adalah sebuah lukisan?

Jogi, bisakah kau melukis wajahku? Lukisanmu bagus sekali!” seru Naeun gembira sambil terus memandangi foto Myungsoo.

Myungsoo lebih memilih diam karena ia terlalu malas untuk membalas perkataan Naeun yang tak masuk akal. Ia tidak peduli lagi pada gadis itu. Kini Naeun justru mengambil kalender yang terpajang di samping foto keluarga Myungsoo.

“Benda apa ini? 2014? Tahun 2014? Apa ini?” tanya Naeun.

Kini Myungsoo sudah benar-benar tidak mengerti lagi. Sebenarnya kenapa Naeun terlihat kebingungan dengan segala benda yang ada di rumahnya? Bahkan kini gadis itu heran dengan kalender tahun 2014.

“Apa yang aneh? Itu hanya kalender tahun 2014!” ucap Myungsoo tanpa melihat ke arah Naeun.

Ne? 2014? Setahuku aku hidup di tahun 1832. Seolma,” Naeun kini justru bergumam sendiri.

Mwo? 1832? Apa kau sedang mengigau? Jelas-jelas kalender itu bertuliskan 2014! Kita berada di tahun 2014! Sadarlah!”

Naeun kini hanya bisa terpaku menatap benda yang disebut kalender oleh Myungsoo itu. Sesekali ia mengerutkan dahinya karena tidak bisa memahami semuanya. Bagaimana bisa ia berada di tahun 2014?

===

 

Joseon, 1832.

 

Suasana desa mendadak gempar begitu menerima pengumuman di halaman istana soal kematian Raja. Beberapa warga ada yang berbisik-bisik, membicarakan soal kira-kira siapa yang tega membunuh Raja. Sementara Pangeran Kim Soohyun kini masih shock atas kematian ayahnya yang tiba-tiba itu. Ia begitu terkejut ketika terbangun di pagi hari, dan melihat ayahnya tidak bangun dari tidurnya dengan bekas luka tusuk di dadanya. Siapa yang tega melakukan ini pada Raja? Pangeran Soohyun sendiri bingung.

Tak lama kemudian, para prajurit kerajaan kembali memasuki area istana, setelah memasuki hutan dan gagal mengejar Son Naeun. Salah seorang di antara mereka, yang merupakan pemimpin, maju satu langkah menghadap Pangeran Soohyun. Sambil membungkuk, lelaki itu berkata, “Joisonghamnida, kami kehilangan jejak dia, Taeja jeonha.”

Pangeran Soohyun menautkan kedua alisnya. Wajahnya memerah dan kedua tangannya mengepal. Dipandangnya satu persatu wajah para prajurit kerajaan yang telah gagal menjalankan tugasnya itu.

Mworaguyo?! Apa hanya ini yang bisa kalian lakukan?! Bagaimana bisa kalian menganggap sepele kematian Raja? Kematian ayahku! Kalian memang tidak berguna! Pergi kalian semua! Jangan datang sebagai prajurit istana lagi!”

Tanpa berlama-lama, para prajurit pun langsung mengosongkan halaman istana, begitu juga dengan warga desa yang tadinya sempat berkerumun. Mereka tenu saja tidak berani melihat wajah marah Pangeran Soohyun yang baru pertama kali mereka lihat. Tentu saja, karena Pangeran Soohyun dikenal sebagai pangeran yang ramah, baik, murah senyum, penyabar, dan penyayang.

Setelah halaman istana kosong, Pangeran Soohyun memilih untuk kembali ke kamarnya, duduk di lantai kayu kamarnya, lalu mamijat pelipisnya. Ia benar-benar tidak yakin bisa menangani ini semua.

===

 

Seoul, South Korea, 2014.

 

“Bisa kau katakan sekali lagi?”

“Aku yakin aku hidup di tahun 1832,” ucap Naeun untuk kesekian kalinya.

Jisoo yang sedari tadi memperhatikan dan mendengarkan percakapan ayahnya dengan gadis asing yang baru saja muncul dari lemari pakaiannya itu hanya bisa menatap polos. Sementara Myungsoo kini sibuk meneliti Naeun dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia bahkan tidak jarang untuk menatap mata Naeun lama-lama, mencoba menerka apakah gadis itu jujur atau tidak. Lagipula, semua yang dikatakannya sama sekali tidak masuk akal. Bagaimana bisa ia bilang bahwa ia hidup di tahun 1832? Myungsoo bahkan hampir gila mendengar cerita Naeun tentang bagaimana gadis itu bisa sampai ke lemari pakaian Jisoo.

“Apa kau sedang bergurau? Aku tegaskan sekali lagi. Kita ini berada di tahun 2014, zaman yang canggih dan modern! Bagaimana bisa aku mempercayai ceritamu yang lebih mirip dongeng itu? Kau pikir kau baru saja memasuki mesin waktu, huh? Dan kau pikir aku akan percaya?”

Naeun menghela napas panjang mendengar perkataan Myungsoo. Ia sendiri juga tidak percaya bisa berada di tahun 2014. Suasana di sekelilingnya benar-benar asing. Rumah Myungsoo tidak seperti rumah penduduk desa di zamannya. Sungguh berbeda, terlihat mewah. Tapi anehnya, Myungsoo berkata bahwa rumahnya ini sederhana.

Jinjjayo, aku tidak bohong!”

“Terserah kau bohong atau tidak, itu tidak ada hubungannya denganku. Aku dan anakku akan segera tidur. Kalau kau berkenan, lebih baik kau sekarang keluar dari rumahku, dan pulang,” ucap Myungsoo seraya bangkit dari duduknya hendak mengantar Naeun menuju pintu keluar.

Sementara Naeun kini hanya bisa menggeleng kuat. “Shireo! Bagaimana bisa kau mengusirku? Nanti aku tinggal dimana? Aku bahkan masih tidak tahu aku ada dimana. Rumahku ada di tahun 1832, kau masih tidak percaya dan tega mengusirku?”

Keurae, zaman sekarang ini banyak sekali penipu. Jadi, aku tidak bisa langsung begitu saja mempercayaimu. Akan kutunjukan pintu keluarnya,” ucap Myungsoo yang kini benar-benar menarik tangan Naeun agar gadis itu bangkit dari duduknya lalu mengikutinya. Begitu sampai di depan pintu, Myungsoo langsung membukanya. Ia pun mendorong Naeun agar keluar dari rumahnya lalu dengan cepat mengunci pintu rumahnya.

DOR DOR DOR

Jogiyeo!” teriak Naeun dari luar sambil terus menggebrak pintu rumah Myungsoo. Namun teriakannya itu sama sekali tidak dihiraukan oleh Myungsoo.

Appa.”

Myungsoo membalikkan tubuhnya ke arah Jisoo yang ternyata berdiri di belakangnya dengan tatapan bingung. Myungsoo hanya tersenyum lalu berjongkok untuk menyamai tingginya dengan anak perempuannya itu. “Wae? Kau tidak tdur? Ini sudah malam. Tidak baik anak seusiamu tidur malam-malam.”

Appa.”

“Hm?”

“Bagaimana dengan dia?” tanya Jisoo seraya menunjuk ke arah pintu. Myungsoo pun segera menggelengkan kepalanya lalu tersenyum.

“Dia juga akan pulang lalu tidur di rumahnya. Kau juga harus tidur, arra?”

Jisoo hanya mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya. Myungsoo pun berjalan mengikuti dari belakang, memastikan anaknya itu tidur, memasangkan selimut, lalu mematikan lampu kamarnya, setelah itu kembali ke kamarnya sendiri.

Begitu memasuki kamarnya, ia langsung membaringkan tubuhnya lalu merapatkan selimutnya. Sebelum matanya benar-benar tertutup, ia menyempatkan untuk menoleh ke sebelah kanan, tempat dimana biasanya Jiyeon tidur. Kini ia harus tidur sendiri di ranjangnya yang lebar, yang seharusnya ditiduri oleh dua orang. Tanpa sadar, Myungsoo kembali meneteskan air mata.

“Jiyeon-ah.”

===

Waktu menunjukkan tengah malam ketika Jisoo terbangun dari tidurnya. Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air minum. Karena letak gelas yang cukup tinggi, Jisoo hampir saja membuat keributan kalau saja yang ia jatuhkan adalah gelas beling. Setelah menghela napas, tangan kecilnya pun meraih gelas yang terjatuh tadi lalu segera mengisinya dengan air putih.

Setelah merasa hausnya hilang, Jisoo kembali berjalan menuju kamarnya. Namun, baru saja beberapa langkah ia meninggalkan dapur, pandangannya tertuju pada pintu rumahnya. Karena merasa penasaran akan gadis asing yang baru saja diusir ayahnya, Jisoo pun mencoba untuk mengintip melalui jendela. Seketika kedua mata dan bibir mungilnya membulat ketika melihat seorang gadis sedang tertidur di teras rumahnya. Gadis itu tentu saja gadis yang ditemukan tertidur dalam lemari pakaiannya.

Karena merasa kasihan sekaligus heran, Jisoo pun berlari menuju kamar Myungsoo.

TUK TUK TUK

Setelah mencoba mengetuk pintu beberapa kali tetapi tidak ada jawaban, Jisoo akhirnya memutuskan untuk langsung membuka pintu. Ia menghampiri ranjang ayahnya dengan perlahan, sebelum akhirnya mengguncang pelan tubuh besar itu.

Appa. Appa, ireonha.”

Tak butuh waktu lama bagi Jisoo untuk membangunkan Myungsoo. Lelaki itu langsung bangun begitu mendengar suara anak perempuannya memanggil namanya. Dengan mata yang masih setengah terpejam, Myungsoo menatap Jisoo bingung. “Wae geurae? Kenapa kau terjaga di tengah malam begini?”

Appa, Agasshi yang ada di luar, kasihan dia.”

“Apa maksudmu? Dia belum juga pulang?” tanya Myungsoo yang mulai membuka matanya lebih lebar. Jisoo hanya menggelengkan kepalanya.

Akhirnya Myungsoo menggandeng tangan kecil Jisoo untuk bersama-sama memastikan. Benar saja, begitu Myungsoo membuka kunci pintu rumahnya, Naeun terlihat sedang tertidur pulas di teras rumahnya. Myungsoo yang melihat hal ini hanya bisa berdecak kesal sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali. Sementara Jisoo justru membungkukkan badannya lalu mencoba membangunkan Naeun. Tetapi, setelah Jisoo mengguncang pelan tubuhnya, Naeun tak kunjung bangun. Tangan kecil Jisoo pun tergerak untuk menyentuh dahi Naeun. Panas.

Appa, dahi Agasshi ini panas sekali,” ujar Jisoo sambil mendongak ke arah ayahnya yang jauh lebih tinggi darinya itu.

Jinjjayo?” tanya Myungsoo yang kini berjongkok sambil ikut menyentuh dahi Naeun.

Aku semakin yakin saja bahwa gadis ini gila, dasar.

===

Naeun menggeliat pelan sembari menyibakkan selimut yang telah menghangatkan tubuhnya sepanjang malam itu. Perlahan, ia bangkit lalu berjalan menjauhi ranjang yang baru saja ia tiduri. Sambil meregangkan otot-ototnya, Naeun berjalan menghampiri cermin yang bersatu dengan meja rias. Ia terkagum-kagum melihat meja rias yang begitu mewah, bahkan lebih mewah disbanding meja rias milik permaisuri di kerajaan. Bahkan, meja rias tersebut dilengkapi dengan lampu.

“Wah, apa benar aku sedang berada di tahun 2014? Apa di tahun ini semua barang serba mewah? Daebak,” gumamnya sambil terus memandangi cermin sambil tersenyum.

Setelah menatap pantulan dirinya di cermin cukup lama, senyumnya memudar. Ia kini mulai memegang rambutnya yang mendadak terurai begitu saja, padahal seingatnya ia menggulung rambutnya. Juga dengan pakaiannya. Naeun bahkan tidak tahu pakaian apa yang ia kenakan saat ini. Baju yang berbahan licin, dan juga, celana? Ia bahkan terkejut ia memakai celana.

TUK TUK TUK

Tak lama setelah suara ketukan itu, pintu kamar yang ditempati Naeun pun terbuka. Seorang anak perempuan berumur empat tahun langsung berjalan menghampiri Naeun.

“Kau terlihat sangat cantik. Aku tidak tahu kau ternyata secantik ini,” ucap Jisoo sambil tersenyum polos ke arah pantulan Naeun di cermin.

Ne? Gomapseumnida.”

“Apa kau menyukai piyamanya?”

Ne? Piyama?” tanya Naeun yang merasa asing dengan kata piyama.

Keurae, itu piyama milik Eomma. Kelihatannya pantas untukmu.”

Naeun pun hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia kini mengerti bahwa piyama adalah baju yang sedang ia kenakan sekarang.

“Kau sudah sembuh?”

Suara berat yang mendadak terdengar membuat Naeun dan Jisoo reflek menoleh bersamaan ke arah pintu. Kim Myungsoo tengah berdiri sambil bersandar pada dinding kamar sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Baguslah kalau begitu, kau bisa cepat pulang,” lanjutnya setelah memperhatikan Naeun yang kelihatan sehat.

Naeun baru akan menjawab pertanyaan Myungsoo ketika ia menyadari sesuatu. “Siapa yang mengganti bajuku?” tanyanya sambil memeluk tubuhnya sendiri.

Myungsoo justru tertawa sinis mendengarnya. “Kau pikir siapa? Apa jangan-jangan, kau mengira aku yang mengganti pakaianmu?”

Keurom, nugu?”

“Memang aku,” jawab Myungsoo santai.

MWO?”

“Jisoo membantuku. Lagipula, aku hanya mengganti pakaian luarmu saja, aku tidak melihat apapun. Aku bahkan tidak mengerti bgaimana isa kau memakai baju dalam setebal itu. Tenanglah, tidak perlu sekaget itu.”

Naeun kini mengalihkan pandangannya ke arah Jisoo yang tengah tersenyum polos ke arahnya. Sementara Myungsoo mengambil handuk dan pakaian dari laci yang tepat berada di samping tempatnya bersandar. Setelah mengambil, ia langsung melemparkannya pada Naeun. Naeun hanya menangkapnya sambil menatap Myungsoo bingung.

“Mandilah, kau bau sekali,” ucap Myungsoo seraya berjalan keluar kamar tamu.

Sementara Naeun hanya menghela napas sambil sesekali mengumpat kesal.

Agasshi, kamar mandinya ada di sebelah kamar ini,” ujar Jisoo.

Arrasseo, gomawo.”

Naeun pun segera berjalan menuju kamar mandi yang terletak tepat di sebelah kamar yang baru saja ia tempati. Begitu sampai di depan pintu, Naeun kini terdiam. Ia memperhatikan dengan seksama gagang pitu yang berbentuk bulat itu. Sesekali ia memiringkan kepalanya karena kebingungan bagaimana cara membuka pintunya. Hingga tiba-tiba, sebuah tangan kecil memutar gagang bulat pintu kamar mandi itu hingga terbuka.

“Begini cara membukanya,” ucap Jisoo yang baru saja membukakan pintu kamar mandi untuk Naeun. Naeun hanya mengangguk lalu berjalan memasuki kamar mandi yang mendadak terang. Reflek, ia pun menoleh ke belakang dan mendapati Jisoo tengah menekan tombol lamput yang tidak terlalu tinggi sambil berjinjit. Tombol lampu tersebut memang sengaja tidak dipasang tinggi agar Jisoo bisa dengan mudah menyalakannya.

“Kalian punya benda seperti ini di setiap ruangan, ya? hebat sekali, sinarnya begitu terang,” ucap Naeun sambil terkagum-kagum melihat sinar lampu.

Jisoo yang tidak terlalu mengerti kemana arah pembicaraan Naeun hanya bisa diam memperhatikan tingkah aneh Naeun. Gadis itu kini berjalan menghampiri bath tub. Alisnya mendadak berkerut ketika mengetahui tidak ada air di dalamnya.

Jeogi, bagaimana caranya kau mandi jika airnya tidak ada?”

Tanpa berbasa-basi, Jisoo langsung melangkah masuk ke kamar mandi, menutup lubang air pada bath tub, lalu memutar kran air. Mata Naeun seketika membulat melihat air yang keluar begitu deras setelah Jisoo memutarnya. Tanpa sadar, ia kini bertepuk tangan sambil berdecak kagum.

“Bagaimana bisa rumah kalian memiliki alat secanggih ini untuk mandi? Di rumahku saja tidak ada.”

“Apa Agasshi benar-benar datang dari masa lalu?”

Ah, kau tidak perlu memanggilku Agasshi, panggil saja aku Naeun. Namaku Son Naeun. Mungkin kau bisa memanggilku, Naeun Eonni? Bukankah kedengarannya lebih akrab?”

Jeongmal? Apa aku boleh memanggilmu begitu?”

Naeun mengangguk sambil tersenyum. Ia lalu berjongkok untuk menyamai tingginya dengan Jisoo. “Jadi, siapa namamu?”

“Jisoo, Kim Jisoo.”

“Kim Jisoo, bagaimana kalau mulai saat ini kita berteman? Kau mau, kan menjadi temanku?” tanya Naeun. Jisoo mengangguk lalu memeluk Naeun. “Gomawoyo, Eonni. Kau baik, dan juga cantik. Kau mengingatkanku pada Eomma.”

Dahi Naeun berkerut ketika ia merasa bahunya mulai hangat dan basah. Segera ia lepaskan pelukannya dengan Jisoo. Benar saja, anak itu tengah menangis. Naeun menatapnya iba sambil menghapus air matanya. “Wae geurae?”

Eommaku sudah meninggal, Eonni.”

Naeun terkejut mendengarnya. Jisoo masih terlalu kecil untuk kehilangan sosok ibu. Pasti Jisoo mengalami masa yang sulit sekarang.

“Aku turut berduka atas kematiannya, ya. Ngomong-ngomong, kita sama. Eommaku juga sudah meninggal kemarin.”

Jinjja? Eommaku juga meninggal kemarin.”

“Semua karena kecerobohanku, Eommaku sampai meninggal,” ucap Naeun yang mulai mengeluarkan air mata mengingat ibunya.

“Airnya sudah penuh!”

===

 

Joseon, 1832.

 

“Kau yakin terakhir kali melihatnya di sini?” tanya Pangeran Kim Soohyun kepada seorang pemimpin prajurit kerajaan yang baru saja gagal menangkap Naeun. Ya, walaupun pada kenyataannya Pangeran Soohyun masih belum mengetahui bahwa Naeun adalah anak dari pembunuh ayahnya. Yang ingin ia lakukan hanyalah, mencari tahu keberadaan seluruh anggota keluarga yang tersisa dari si pembunuh, untuk membuat mereka menyaksikan di pembunuh dieksekusi di halaman istana. Begitulah tradisi di desanya.

Pangeran Soohyun terus menatap sekeliling, mencoba mencari kira-kira kemana Naeun bisa menghilang di tengah hutan begini. Hingga tanpa sadar, ia menemukan sebuah lubang. Lubang tersebut sangat gelap seperti tidak ada ujungnya.

“Lee Gikwang, kemarilah!” perintah Pangeran Soohyun kepada pemimpin prajurit yang bernama Gikwang itu.

Ye, Taeja Jeonha,” ucapnya begitu menghampiri Pangeran Soohyun.

“Apa mungkin anak dari Son Heedong masuk ke dalam lubang ini?”

“Mungkinkah? Keunde, aku yakin dia menghilang tepat di tempat ini, Taeja Jeonha.”

Pangeran Soohyun kini mengalihkan pandangannya, mencoba mencari seseorang yang mungkin mengetahui soal lubang hitam itu. “Jogiyeo!” serunya begitu melihat seorang wanita dengan jubah hitam berjalan tak jauh dari tempatnya. Wanita itu menoleh lalu berjalan menghampiri Pangeran Soohyun. Ia membungkukkan badannya. “Ye, Taeja Jeonha. Anda memanggilku?” tanyanya.

Heokshi, kau tahu lubang apa ini?”

Wanita itu pun melihat ke arah lubang hitam yang ditunjukkan. Dengan pelan, ia mengangguk. “Aku yang membuatnya,” ucapnya misterius.

Ne?”

“Lubang itu bisa membawa siapa saja yang masuk ke dalamnya ke masa depan. Hampir mirip dengan mesin waktu, dan aku telah berhasil membuatnya.”

Seolma, kau penyihir?”

“Benar sekali! Aku adalah penyihir. Apa kalian tertarik untuk masuk ke dalam sini?”

Chankaman. Apa kau pernah melihat seorang gadis masuk ke sini?”

Wanita itu tampak berpikir sebelum akhirnya mengeluaran sebuah cermin. Ia lalu mengarahkan cermin tersebut pada Pangeran Soohyun. Pantulan wajah sang pangeran terlihat jelas di sana, namun, perlahan menghilang dan berganti menjadi wajah seorang gadis.

“Naeun?”

“Gadis inilah yang pertama kali memasuki lubang buatanku. Dan, ternyata berhasil! Dia kini sudah berada di tahun 2014.”

“2014? Tahun apa itu?”

“Tahun 2014 adalah tahun yang paling modern sekaligus tahun terbaru.”

“Apa aku bisa percaya ucapanmu?”

“Kau meragukanku? Kalau kau tidak percaya, kau bisa masuk ke dalamnya. Tapi, kesempatanmu hanya sekali seumur hidup. Jika kau masuk ke dalamnya menuju masa depan, lalu kembali ke sini, kau tidak akan bisa kembali lagi ke masa depan. Jika kau tetap masuk ke dalam lubang ini, kau akan mati.”

Pangeran Soohyun mengalihkan pandangannya ke arah Gikwang yang kini tampak kebingungan sekaligus tidak percaya.

“Jadi, Son Naeun adalah anak dari Son Heedong?” Gikwang mengangguk.

Setelah mendapat jawaban dari Gikwang, Pangeran Soohyun kembali penatap si wanita penyihir yang tampak tengah menunggu jawabannya.

“Sebenarnya, apa tujuanmu membuat lubang ini?”

“Kau tahu? Eksperimen. Aku adalah penyihir.”

“Apa tidak ada cara lain agar kita bisa memasuki lubang itu dua kali?”

“Hmm, sebenarnya ada. Kalian mungkin saja bisa kembali ke masa depan jika memang di masa depan itulah jodohmu berada.”

=To Be Continued=

 

Gimana chapter 2 nya? Apa cerita ini makin rame, atau justru makin aneh? Maaf ya, soalnya ini ff genre fantasy pertama aku. Jadi, ya, masih belajar lah.

Jangan bosan meninggalkan komentar, ya. maaf kalo komen kalian ngga aku balas, tapi tetep aku baca kok. Makasih buat yang udah komen di chapter sebelumnya, dan udah ngasih aku semangat buat terus melanjutkan ff ini. Aku harap kalian ngga bosen untuk terus kasih aku motivasi dan saran lewat komentar ya^^

Advertisements

9 thoughts on “[Chaptered] Is It Too Late? (Chapter 2)

  1. Kurng pnjng thorr,, tpii krenn,, mkiin pnsaran sma endingnya, hohoh,, fighting thorr (ง’̀⌣’́)ง mngkinkah myungeun ? Yakkk yeehh ~(˘▾˘~) ~(˘▾˘)~ (~˘▾˘)~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s