Chaptered · FanFiction

[Chaptered] Is It Too Late? (Chapter 3)


is-it-too-late

Title : Is It Too Late? (Chapter 3)

Casts :

  • [APink] Son Naeun
  • [Infinite] Kim Myungsoo
  • Kim Soohyun (Actor)
  • [Miss A] Bae Sooji

Genre : Romance, Fantasy

Rated : PG 15

Length : Chaptered

Disclaimer : inspired from a movie “Enchanted”, a Korean Drama “Rooftop Prince”, and some fan fictions.

Poster : Ettaeminho

Summary :

Son Naeun adalah seorang gadis cantik biasa yang hidup pada masa dinasti Joseon. Ia hidup bersama ayahnya, karena ibunya sudah meninggal. Ayahnya pun hanya seorang tukang kebun yang bekerja merawat kebun istana. Namun. Karena kecantikan dan kesopanan Naeun lah, ia bisa memikat hati pangeran tampan bernama Kim Soohyun. Akan tetapi, tak lama setalah perkenalan mereka, hal buruk menimpa keluarga Naeun. Ayahnya diduga telah membunuh raja. Hal itu membuat Naeun menjadi incaran pihak kerajaan karena ayahnya menghilang entah kemana. Naeun akhirnya melarikan diri dari kejaran para pasukan kerajaan. Karena sebuah kecelakaan, Naeun pun terjerumus ke dalam sebuah lubang yang membawanya ke masa depan. Tempat dimana ia bertemu dengan keluarga kecil, seorang duda dengan satu anak yang baru saja ditinggal mati istrinya, Kim Myungsoo.

 

 

=Chapter 3=

“Hmm, sebenarnya ada. Kalian mungkin saja bisa kembali ke masa depan jika memang di masa depan itulah jodohmu berada.”

Pangeran Soohyun tercengang mendengar perkataan penyihir itu. Ia kini sibuk memikirkan apakah jodoh Naeun ada di masa depan atau tidak. Jujur, ia takut kehilangan Naeun.

Tidak. Ia bisa membuat Naeun kembali ke Joseon untuk selamanya. Ia bisa, dan ia harus. Dengan perlahan, ia melangkahkan kakinya mendekati si penyihir. Ditatapnya kedua mata itu dengan tajam sambil meyakinkan hatinya sebelum ia benar-benar melakukannya.

“Aku akan masuk ke dalam,” ucapnya dengan yakin.

Taeja Jeonha,” sela Gikwang yang nampak tak percaya dengan perkataan sang Pangeran.

“Apa kau yakin?” tanya si penyihir dengan tatapan meremehkan. Tetapi Pangeran Soohyun tetap yakin dan mengangguk mantap.

Arrasseo, kau bisa masuk. Tapi ingat pesanku, kau hanya bisa memasuki lubang ini satu kali, kecuali jika kau yakin jodohmu berada di masa depan.”

Untuk kedua kalinya, Pangeran Soohyun menganggukkan kepalanya. Tak lama setelahnya, ia langsung melompat masuk ke dalam lubang, diikuti oleh Gikwang. Keduanya pun tenggelam dalam lubang semakin dalam, hingga mereka sampai di sebuah tempat yang, basah.

===

 

Seoul, South Korea, 2014.

 

Selesai menyiapkan susu dan roti untuk Jisoo, Myungsoo bergegas mengambil handuk lalu menyiapkan pakaiannya untuk segera mandi sebelum pergi bekerja. Seharusnya, ia bisa mengambil cuti karena istrinya baru saja meninggal. Tetapi, Myungsoo merasa ia tidak memerlukannya. Lagipula, ia sudah merasa cukup baik. Kalaupun ia berada di rumah, ia justru akan semakin terlarut-larut dalam kesedihan.

Begitu ia memasuki kamar mandi yang berada di dalam kamarnya, ia baru ingat bahwa sabun mandinya tertinggal di kamar mandi tamu. Akhirnya, ia pun harus kembali ke luar. Begitu sampai di depan pintu kamar mandi, tiba-tiba saja Jisoo berteriak.

Appa!”

Ne, Jisoo-ya, Appa sedang–“

Perkataan Myungsoo jelas terpotong begitu ia membuka pintu kamar mandi. Tampak Naeun yang berdiri membelakangi Myungsoo sedang memakai handuk kimononya dengan tubuhnya yang masih basah. Ketika Naeun membalikkan tubuhnya, ia terkejut bukan main mengetahui Myungsoo berdiri tegak di pintu kamar mandi.

“Kau tidak mengunci pintunya?”

“KYAAAAAAAAAA, APA YANG KAU LIHAT?!” teriak Naeun sambil berlari keluar kamar mandi hingga tak sengaja mendorong tubuh Myungsoo hingga terjatuh.

BRAK

Naeun langsung memasuki kamar lalu menutup pintu dengan keras.

Myungsoo yang sempat shock kini mulai kembali pada kesadarannya. Perlahan, ia kembali berdiri lalu memasuki kamar mandi untuk mengambil sabunnya. Melihat bath tub yang masih berisi air, Myungsoo tak lupa untuk membuka lubang air, agar air tersebut segera surut. Setelah bath tub benar-benar kosong, ia menggelengkan kepalanya.

“Apa dia bahkan tidak tahu bagaimana cara membuang air di bath tub?”

Setelah membuang air bath tub dan juga mengambil sabunnya, Myungsoo lalu berjalan keluar kamar mandi. Namun, ketika ia sampai di depan pintu kamar tamu yang ditempati Naeun, ia melirik sejenak ke arah pintu tersebut. “Huh, dia pikir aku lihat apa? Lagipula, apa yang bisa aku lihat darinya?”

===

Agasshi, kau kenapa?”

Jisoo bertanya pelan sembari berjalan menghampiri Naeun yang tengah menangis terduduk memeluk lututnya di lantai kamar tamu. Tubuh kecilnya lalu duduk di samping Naeun sambil menatap polos.

“Kenapa kau menangis?” tanya Jisoo lagi.

Naeun perlahan mendongak. Ditatapnya kedua bola mata Jisoo yang tengah menatapnya polos. Hanya beberapa detik, tanpa menjawab pertanyaan gadis kecil itu, Naeun kembali menenggelamkan wajahnya. Tangisannya justru ia perkeras dibanding sebelumnya. Jisoo kini semakin panik melihat Naeun yang justru kembali menangis.

“Biarkan saja dia, mungkin dia butuh waktu untuk sendiri,” seru Myungsoo dari ruang tengah disertai kekehan pelan yang masih bisa didengar oleh Naeun dan Jisoo.

Myungsoo jelas sangat tahu alasan Naeun menangis seperti itu. Ia kini rasanya ingin tertawa mengingat ekspresi gadis itu ketika ia membuka pintu kamar mandi. Aneh, gadis itu bahkan tidak tahu cara mengunci pintu.

Jisoo yang mendengar ayahnya berbicara langsung berlari keluar kamar tamu, meninggalkan Naeun yang masih menangis.

“Apa yang terjadi pada Agasshi itu Appa?” tanya Jisoo sambil mendongak menatap wajah ayahnya. Myungsoo pun segera berjongkok lalu memegang kedua lengan kecil anaknya.

Agasshi? Kau belum tahu namanya? Kenapa tidak berkenalan dengannya saja?” tanya Myungsoo sambil tersenyum tipis.

“Berkenalan? Bolehkah?” tanya Jisoo, Myungsoo mengangguk. Namun setelahnya, Jisoo menundukkan kepalanya. Terlihat raut wajahnya mulai sedih.

Ya, wae geurae?”

“Apa dia akan pergi, Appa?”

Keurom. Dia harus kembali ke tampat dimana dia berasal.”

“Makdsud Appa masa lalu?”

Myungsoo tersenyum tipis mendengar pertanyaan anaknya. “Kau percaya ceritanya?”

Appa tidak?” tanya Jisoo. Myungsoo hanya mengangkat bahu lalu mengalihkan pandangannya, menyipitkan matanya, mencoba memikirkan perkataan Naeun yang memang sulit dipercaya. “Kau yakin dia jujur?”

“Aku rasa iya. Bukankah berbohong adalah perbuatan yang tercela? Aku tidak yakin Agasshi itu melakukan perbuatan yang tercela.”

Mendengar perkataan anaknya, Myungsoo berpikir, ada benarnya juga. Mengingat sikap gadis itu yang begitu polos, mungkin. Walau begitu, ia tetap tidak mungkin membiarkan Naeun tinggal di rumahnya lama-lama. Apalagi, asal-usul gadis itu masih belum jelas. Sangat sulit untuk mempercayai ceritanya, tentang kedatangannya dari masa lalu. Semua itu, sulit masuk di akal manusia tahun 2014.

“Ngomong-ngomong, bukankah dia sudah memperkenalkan diri ketika muncul di kamarmu?” tanya Myungsoo lagi. Jisoo mengangguk. “Tapi aku masih ragu untuk memanggilnya.”

Myungsoo hanya tersenyum lalu berdiri. Ia mengelus pelan puncak kepala anak perempuannya. “Appa pergi ke kantor dulu, ya,” ujarnya sambil berjalan menuju pintu keluar. Namun, belum sampai Myungsoo membuka pintu, tangan kecil Jisoo menahan tangan besarnya.

Wae?”

Appa, bisakah kita membiarkan dia tinggal di sini?”

Mendengar pertanyaan anaknya, Myungsoo kembali berjongkok. “Waeyo?”

“Aku butuh teman. Aku pasti akan kesepian setiap Appa pergi ke kantor.”

“Bagaimana jika Sooji Eonni saja yang menemanimu?”

Shireo. aku tidak mau dia menjadi Eommaku nantinya!”

“Kenapa kau berpikir begitu?”

“Sooji Eonni pernah bilang bahwa dia menyukai Appa!”

Myungsoo tersenyum tipis. “Dia hanya akan menemanimu, kau tenang saja.”

“Tidak bisakah Naeun Eonni saja yang menemaniku?”

Myungsoo terdiam sejenak. Jisoo baru saja menyebut nama Naeun. Anaknya ini mungkin menyukai Naeun. Tapi, apakah Naeun bisa menjaga Jisoo?

“Aku menyukainya, Appa. Dia cantik, seperti Eomma,” ucap Jisoo yang mulai berkaca-kaca mengingat mendiang ibunya.

Setelah berpikir sejenak, akhirnya Myungsoo memutuskan untuk menganggukkan kepala. “Arrasseo, mungkin dia bisa menginap di sini untuk sementara.”

===

“Pantai?”

Soohyun bergumam pelan begitu perlahan membuka matanya. Gikwang ternyata masih berada di sampingnya. Setelah keduanya membuka mata, mereka langsung membulatkan mata mereka.

“Tempat apa ini?!” teriak Gikwang.

Mereka kini terdampar di sebuah water boom yang tengah ramai pengunjung. Banyak sekali yang sedang berenang, berfoto, berjemur, duduk santai sambil makan dan berjalan-jalan. Sementara mereka berdua hanya duduk terdiam di pinggir kolam dengan pakaian khas kerajaan mereka, pangeran dan prajuritnya. Karena masih shcok, belum ada satupun dari mereka yang berkutik. Soohyun dan Gikwang sama-sama terkejut melihat pemandangan pantai yang sama sekali belum pernah mereka lihat. Tidak ada pasir sama sekali. Jelas saja, yang mereka lihat bukanlah pantai. Banyak sekali pengunjung yang menggunakan pakaian renang yang terbuka di sana.

“Sebenarnya, kita ini berada di mana, Taeja Jeonha?”

“Aku sendiri juga tidak tahu. Coba kau tanyakan pada salah seorang warga di sini,” perintah Soohyun.

Gikwang pun akhirnya mengangguk. Ia pun mulai mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang mungkin bisa dimintai keterangan. Hingga pada akhirnya, ia melihat seorang gadis yang tengah memotret teman-temannya yang sedang berenang dan juga sesekali memotret dirinya. Gikwang yang tidak mengerti benda apa yang dipakai gadis itu akhirnya hanya mengerutkan dahi sebelum akhirnya menepuk bahu gadis itu.

Jeogiyeo.”

Gadis itu yang semula membelakangi Gikwang pun menoleh. “Hm?”

Gikwang terkejut dibuatnya. Gadis itu benar-benar cantik. Ia bahkan hampir lupa tujuannya menepuk bahu gadis itu.

Jeogi.”

Ne?”

Gadis itu rupanya keheranan melihat Gikwang yang terus diam. Perlahan, tatapan Gikwang pun mengarah pada pakaian renang yang dikenakan si gadis. Benar-benar minim. Bahkan gadis itu kini tengah dalam keadaan, basah. Dengan susah payah, Gikwang menelan salivanya. Jujur, di masa Joseon, Gikwang tidak pernah melihat seorang gadis dengan pakaian terbuka seperti ini. Apa di masa depan para gadis bebas berpakaian semaunya?

“Minah-ya!” panggil seorang lelaki sambil melambaikan tangannya. Gadis yang dipanggil Minah kemudian tersenyum sebelum akhirnya berjalan menghampiri si lelaki yang memanggilnya.

Ne, Yongguk Oppa!” serunya sambil terus berjalan.

“Namanya Minah,” gumam Gikwang tanpa sadar. “Sepertinya dia sudah punya kekasih.”

Soohyun yang sedari tadi memperhatikan Gikwang hanya menggelengkan kepala sebelum akhirnya berjalan menghampiri lelaki itu. “Kau sudah bertanya padanya?” tanya Soohyun, Gikwang menggeleng sambil terus menatap punggung Minah yang terus menjauh.

Taeja Jeonha. Apa kita benar-benar berada di masa depan?”

“Kurasa begitu.”

“Apa orang-orang di masa depan menggunakan pakaian serba terbuka begini? Berbeda sekali dengan di Joseon.”

Soohyun hanya mengangguk pelan lalu mengalihkan pandangannya. Ia kini terdiam. Banyak orang yang sudah memperhatikan dirinya dan Gikwang. Mereka semua menatap Soohyun dan Gikwang dengan heran. Bagaimana tidak? Sungguh aneh bila mereka memakai pakaian tebal dan panjang khas kerajaan di dalam water boom saat musim panas? Benar-benar tidak masuk akal.

“Apa yang kalian lihat! Turunkan pandangan kalian, dia adalah Pangeran!” seru Gikwang yang ternyata sudah menyadari tatapan orang-orang di sekitar mereka berdua. Mendengar ucapan Gikwang, para pengunjung justru hanya memutar bola mata, terkekeh, tertawa sinis, dan sebagainya.

“Dasar orang gila,” ujar salah seorang pengunjung.

“Apa yang dia bilang? Pangeran?”

“Aneh sekali, kalau dia Pangeran, akulah Rajanya!”

Keurae, ada-ada saja!”

“Bagaimana bisa mereka masuk ke sini?”

Gikwang yang melihat reaksi para pengunjung rupanya semakin terpancing emosinya. Ia pun segera terjun ke dalam kolam –yang ia duga adalah laut– sambil mulai memukuli beberapa orang yang sempat mencela Soohyun hingga baju prajurit yang ia kenakan basah kuyup. Namun, belum lama ia memukuli para pengunjung water boom, beberapa orang petugas sudah menariknya keluar dari kolam. Ia dan Soohyun pun segera dibawa keluar area water boom.

Ya, apa-apaan kalian?! Bagaimana bisa kalian memperlakukan Pangeran dengan kasar?!” teriak Gikwang begitu ia dan Soohyun sudah sampai di tempat parkir water boom.

“Pangeran? Pangeran pantatmu! Siapa Pangeran? Dasar orang gila! Pergi sana! Jangan buat keributan di sini! Cepat pergi!”

Dengan kasar, Soohyun dan Gikwang pun didorong-dorong keluar gerbang oleh para petugas. Hingga mereka akhirnya sadar, mereka kembali berada di tempat yang asing. Bahkan lebih asing. Mereka melihat mobil-mobil melaju dengan cepat. Gedung-gedung berjajar, beberapa papan iklan dan baliho, juga orang-orang yang berlalu-lalang.

Taeja Jeonha, tempat apa ini? Mengapa berisik sekali? Ramai sekali, ya? banyak sekali bangunan kotak dan tinggi!”

Keurae, bahkan di masa depan, orang-orang tidak perlu kuda untuk bisa membuat kereta berjalan, daebak.”

“Lihat! Bahkan orang di masa depan bisa masuk ke dalam papan setipis itu? Dan ukuran mereka, menjadi besar!” seru Gikwang sambil menunjuk salah satu papan iklan.

Keunde, kenapa ada beberapa di antara mereka yang tidak bergerak? Apa itu hanya lukisan?”

“Lee Gikwang, aku rasa kita membutuhkan tumpangan saat ini. Bisakah kau mencarikanku tumpangan?”

Gikwang pun mengangguk lalu segera berjalan ke tengah jalan raya, menimbulkan beberapa bunyi klakson mobil yang nyaris menghantam tubuhnya. Dengan lantang, ia berteriak meminta tumpangan. Namun, jelas saja, mana ada yang mau berhenti memberikan tumpangan kepada orang dengan kostum prajurit yang berteriak-teriak seperti orang gila?

Pada akhirnya, karena kehabisan akal, Gikwang pun berdiri menghalangi sebuah mobil sambil merentangkan kedua tangannya. Sontak, pengemudi mobil itu pun mengerem mendadak. Dengan kesal, ia turun dari mobilnya lalu berjalan menghampiri Gikwang.

Ya! Kau mau mati, huh?!” teriaknya.

“Kau harus memberi kami tumpangan, Agasshi,” ucap Gikwang sambil melipat kedua tangannya.

Mwo?”

Gikwang rupanya tidak menghiraukan gadis yang tengah kebingungan itu. Ia justru lari ke seberang jalan untung membantu Sohyun menyebrang. Begitu selesai menyebrang, Gikwang dan Soohyun kembali menghampiri si gadis yang ternyata belum pergi.

“Kau harus memberi kami tumpangan,” ulang Gikwang.

Ne?”

“Kau harus memberi tumpangan pada Pangeran dari masa dinasti Joseon.”

Ne?”

“Kau masih belum mengerti?”

“Kami datang dari masa lalu,” ucap Soohyun.

Mwo?”

===

“Son Naeun-ssi, bukalah pintunya,” ucap Myungsoo sambil mengetuk pintu kamar tamu yang ditempati Naeun untuk ke sekian kalinya. Rupanya, gadis itu masih saja menangisi peristiwa dimana Myungsoo membuka pintunya ketika ia sedang mandi. Padahal, Myungsoo sendiri sudah menegaskan berkali-kali bahwa ia tidak melihat apapun.

Ya, apa kau tidak lelah menangis seharian? Kau ini perempuan, tidakkah seharusnya kau keluar dan membuatkan makan malam?”

CLEK

Pintu kamar tamu pun terbuka, menampakkan sosok Naeun dengan rambut berantakan, mata yang sembab, juga piyama yang ternyata masih dipakainya. Melihat hal itu, Myungsoo terkejut hingga reflek, ia pun mundur selangkah.

“Kau yakin tidak melihat apapun?” tanya Naeun dengan suara serak. Myungsoo hanya memutar bola matanya sebelum akhirnya mengangguk malas.

Mendengar hal itu, Naeun pun mencoba untuk menyunggingkan senyuman. Ia pun mencoba mengatur nafasnya yang masih sesenggukan karena menangis sepanjang hari.

“Kau bisa memasak, kan?” tanya Myungsoo dengan tatapan penuh selidik ke arah Naeun.

Keurom!” jawab Naeun dengan yakin sambil mengangkat wajahnya.

“Kalau begitu, memasaklah untuk kami!” ucap Myungsoo yang juga mengangkat wajahnya.

Myungsoo lalu berjalan menuju dapur mendahului Naeun. Sementara gadis itu mengikutinya dari belakang. Begitu sampai di dapur, Myungsoo menghentikan langkahnya. Namun, ternyata Naeun melakukan hal yang sama. Myungsoo kebingungan karena Naeun tak juga mendahuluinya. Akhirnya, ia memutuskan untuk membalikkan tubuhnya, kemudian terkekeh pelan melihat ekspresi gadis itu. Jelas saja, dapur di tahun 2014 pasti sangat berbeda dengan dapur di tahun 1832, bahkan dapur istana sekalipun.

“Jangan bilang kau tidak tahu cara memasak di dapur ini?” tanya Myungsoo sambil tersenyum geli. Ternyata, lama-kelamaan, Myungsoo bisa mulai percaya bahwa gadis di hadapannya ini memang datang dari masa lalu. Ya, meskipun terdengar tidak masuk akal. Tapi, tidak semua yang masuk akal bisa dipercaya, bukan?

“Baiklah, akan kuajari.”

Myungsoo langsung berjalan mendekati wastafel untuk mencuci tangannya. Naeun yang melihat Myungsoo hanya menganggukkan kepala lalu mengikuti semua yang dilakukan lelaki itu.

Myungoo pun akhirnya mulai menjelaskan nama-nama dan fungsi dari peralatan dapur yang ada di rumahnya. Naeun rupanya benar-benar memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama. Ia memang benar-benar ingin bisa memasak walau ia berada di tahun 2014. Awalnya, Myungsoo hanya akan mengajari Naeun, lalu membiarkan gadis itu memasak sendiri. Tetapi, pada akhirnya, ia justru memasak bersama gadis itu.

“Sepertinya kau suka memasak sup, ya?” tanya Myungsoo sambil menyalakan kompor. Sementara Naeun tengah menyiapkan beberapa sayuran juga daging yang nantinya akan dibuat sup.

Eommaku sering membuatkannya untukku dan Appa,” jawab Naeun. Tanpa disadari, matanya mulai berkaca-kaca mengingat mendiang ibunya.

Ya, wae geurae?” Myungsoo yang melihat mata Naeun merasa bersalah karna telah bertanya.

Gwenchana, aku hanya mengingat Eommaku. Dia pasti sudah beristirahat dengan tenang.”

Mendengar jawaban Naeun, Myungsoo pun semakin iba dan merasa bersalah. Tidak seharusnya ia bertanya soal sup bila pada akhirnya akan mengingatkan Naeun pada ibunya.

Eommaku meninggal tepat di hari dimana aku datang ke rumahmu,” lanjut Naeun.

Keurae? Jiyeon juga meninggal hari itu.”

Naeun yang tidak tahu siapa itu Jiyeon hanya menatap Myungsoo dengan tatapan bertanya.

“Istriku.”

Mendengar jawabannya, Naeun hanya mengangguk pelan.

“Hari itu, maaf kan aku kalau aku terlalu keras padamu.”

Gwenchana, aku bisa memakluminya kau tenang saja.”

Setelah percakapan itu berakhir, mereka kembali serius dengan pekerjaan masing-masing. Myungsoo masih serius mengaduk bahan-bahan sup yang baru saja dimasukkan oleh Naeun, sementara gadis itu hanya mendengarkan segala ucapan Myungsoo mengenai peralatan dapur dan bagaimana cara memasak di tahun 2014.

“Sepertinya supnya sudah siap. Bisakah kau bangunkan Jisoo di kamarnya? Setelah itu siapkan nasi untuknya. Supnya biar aku yang urus.”

Naeun hanya mengangguk lalu segera berlari kecil menuju kamar Jisoo. Setelah mengetuknya pelan, ternyata Jisoo sudah terbagun dari tidurnya lalu membuka pintu kamarnya. Melihatnya, Naeun hanya tersenyum.

“Ayo kita makan malam.”

Jisoo tersenyum lalu berjalan bersama Naeun menuju ruang makan. Begitu Jisoo duduk di kursinya, Naeun segera menyiapkan tiga mangkuk lalu mengisinya dengan nasi. Setelah dijelaskan secara singkat oleh Myungsoo, untung saja gadis itu cepat paham. Begitu ketiganya sudah duduk di meja makan, mereka pun mulai menyantap sup buatan Myungsoo dan Naeun itu.

Mashita!” seru Jisoo begitu mencoba suapan pertama kuah sup.

Jinjja? Appa dan Naeun Eonni yang membuatnya!”

Jinjjayo? Naeun Eonni, jjang!” Jisoo mengangkat kedua ibu jarinya.

“Kau tidak memuji Appa?” tanya Myungsoo karena merasa sikap putrid kecilnya itu tidak adil.

Appa sudah sering mendapat pujian dariku!”

Naeun tersenyum melihat interaksi Myungsoo dan Jisoo yang benar-benar menggemaskan. Di masa Joseon, jarang sekali ia bisa melihat pemandangan seperti ini. Waktu untuk bercanda dengan keluarga lebih sedikit karena semua orang tua sibuk mencari uang. Bahkan, di masa Joseon, sulit sekali menemukan lelaki yang bisa memasak, jika bukan seorang koki.

Heokshi, kau berprofesi seorang koki, Myungsoo-ssi?” tanya Naeun.

Aniyeo, waeyo?”

“Kenapa kau bisa memasak?”

Lagi-lagi Myungsoo hanya tersenyum geli mendengar pertanyaan Naeun.

Wae? Apa pada masa Joseon tidak ada lelaki yang bisa memasak?”

“Ada, tapi dia seorang koki. Sementara lelaki lainnya, tidak bisa memasak sama sekali.”

“Aku rasa, tahun 2014 adalah tahun yang berbeda, dan kau akan menyukainya,” ucap Myungsoo misterius menyebabkan kerutan di dahi Naeun. Namun, gadis itu lebih memilih diam lalu menghabiskan supnya.

Ketika Naeun dan Myungsoo memilih untuk diam, Jisoo justru berbicara. “Menyenangkan maka malam seperti ini, rasanya kita bertiga seperti keluarga!”

Sontak, mendangar perkataan polos Jisoo, Naeun dan Myungsoo sama-sama tersedak sup masing-masing. Kedua matanya bahkan sampai berkaca-kaca. Dengan gerakan kompak pula, keduanya meraih gelas masing-masing yang berisikan air putih hingga meneguknya sampai habis. Melihat kekompakan Myungsoo dan Naeun, Jisoo hanya menatap keduanya polos.

“Kita memang seperti keluarga.”

Ucapan terakhir Jisoo membuat Naeun dan Myungsoo saling pandang.

===

Selesai ketiganya menghabiskan sup, Naeun pun dengan semangat membereskan mangkuk-mangkuk dan gelas yang kotor. Namun, belum sempat ia taruh gelas kotor yang ia pegang ke wastafel, ia mendengar suara asing. Naeun yakin betul bahwa suara yang ia dengar bukanlah suara Myungsoo ataupun Jisoo. Karena penasaran, Naeun akhirnya mengecek ruang tengah rumah Myungsoo. Jelas, ia terkejut.

PRANG

=To Be Continued=

 

Hai readers. Maaf ya kalo aku lama update, habis, aku sibuk ngurusin pendaftaran buat masuk sma sih, hehe. /ngga juga sih/

Sebenernya, jujur nih, ya. aku tuh agak gimanaaaa gitu kalo ngelanjutin ff yg komennya cuma sedikit, apalagi kalo berkurang. Oleh karna itu, aku berharap banget readers mau meninggalkan komentarnya buat aku. Buat yg ngga pernah komen, dimohon komen. Buat yg selalu komen, makasih banyak, dan terus komen ya.

Maaf kalo kurang memuaskan, kependekan, bertypo, atau kurang menarik. Mood nulis aku tergantung komen dari kalian. Jadi, tinggalkan komentarnya!

Thanks for reading^^

Advertisements

9 thoughts on “[Chaptered] Is It Too Late? (Chapter 3)

  1. itu apaaa yang pecahh? siapa yang naeun lihat?? jin kah?? myungjin *-* gak ada typo ka tapi rasanya kaya yg lebih pendek dari part kemaren … baguus baguus 😀

  2. hyaa aku baru nemu ffnya *-* hihi omonaaa jisoo why so cute kkk.cerita yang menarik thor.i like it!’3′ ayo lanjutkan~ semangat semangat!!

  3. knp ff ini blom.dilnjt pdhal nie crtx seru N ngegemesin ..
    tlg dilnjt yach next partx..
    maaf bru s4t komen disni tpi z suka koment ff ini di RFF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s