Chaptered · FanFiction

[Chaptered] Is It Too Late? (Chapter 4)


is-it-too-late

Title : Is It Too Late? (Chapter 4)

Casts :

  • [APink] Son Naeun
  • [Infinite] Kim Myungsoo
  • Kim Soohyun (Actor)
  • [Miss A] Bae Sooji

Genre : Romance, Fantasy

Rated : PG 15

Length : Chaptered

Disclaimer : inspired from a movie “Enchanted”, a Korean Drama “Rooftop Prince”, and some fan fictions.

Poster : http://springfanfiction.wordpress.com/

Summary :

Son Naeun adalah seorang gadis cantik biasa yang hidup pada masa dinasti Joseon. Ia hidup bersama ayahnya, karena ibunya sudah meninggal. Ayahnya pun hanya seorang tukang kebun yang bekerja merawat kebun istana. Namun. Karena kecantikan dan kesopanan Naeun lah, ia bisa memikat hati pangeran tampan bernama Kim Soohyun. Akan tetapi, tak lama setalah perkenalan mereka, hal buruk menimpa keluarga Naeun. Ayahnya diduga telah membunuh raja. Hal itu membuat Naeun menjadi incaran pihak kerajaan karena ayahnya menghilang entah kemana. Naeun akhirnya melarikan diri dari kejaran para pasukan kerajaan. Karena sebuah kecelakaan, Naeun pun terjerumus ke dalam sebuah lubang yang membawanya ke masa depan. Tempat dimana ia bertemu dengan keluarga kecil, seorang duda dengan satu anak yang baru saja ditinggal mati istrinya, Kim Myungsoo.

 

=Chapter 4=

PRANG

Myungsoo dan Jisoo yang tengah menonton televisi di ruang tengah serempak mengarahkan pandangannya pada Naeun yang tengah membeku. Pecahan gelas beling yang dibawanya berserakan dimana-mana.

“Diam di situ!” seru Myungsoo sembari beranjak dari duduknya untuk berjalan menghampiri Naeun dengan hati-hati, takut-takut ia menginjak pecahan beling. Begitu ia berdiri di hadapan Naeun, ia segera mengambil sapu yang bersandar tak jauh dari tempat Naeun berdiri. Baru saja Myungsoo hendak menyapu pecahan beling, Naeun tahu-tahu sudah melangkahkan kakinya lalu meringis karena menginjak pecahan beling.

“Kau tidak dengar aku ya?!” bentak Myungsoo seraya menahan lengan Naeun. Namun nyatanya gadis itu hanya diam, terpaku melihat televisi yang sedang menyala di ruang tengah rumah Myungsoo itu.

“Benda apa itu?” tanya Naeun dengan mata berbinar.

Sementara Myungsoo yang mendengar pertanyaan Naeun hanya menghela napas. “Bagaimana bisa kau memecahkan gelas hanya karena melihat televisi menyala?”

===

“Ah, appo!” erang Naeun sembari tak sengaja menepis kasar tangan Myungsoo.

Ya! Ini semua salahmu! Kenapa harus sampai sekaget itu hanya karena melihat televisi menyala? Sekarang jangan mengeluh kalau telapak kakimu berdarah! Suruh siapa kau berjalan? Aku, kan sudah bilang agar kau diam di tempat!” ucap Myungsoo yang nyaris membentak sambil terus mengobati luka Naeun di sofa ruang tengah. Jisoo yang tadinya asyik menonton televisi kini lebih memilih memperhatikan Naeun dan ayahnya.

“Kenapa kau memarahiku?! Aku, kan baru pertama kali melihat benda itu!” seru Naeun tak mau kalah.

“Jelas aku marah! Tadi itu berbahaya!” ucap Myungsoo yang akhirnya meninggikan suaranya. Naeun hanya bisa menundukkan kepalanya karena takut melihat Myungsoo yang tengah marah.

Appa sepertinya sangat khawatir pada Naeun Eonni, ya?”

Pertanyaan Jisoo sukses membuat Myungsoo dan Naeun bertemu pandang.

Maldo andwae!” seru Myungsoo dan Naeun bersamaan, membuat Jisoo terkekeh geli.

“Sejak tadi malam sepertinya Appa dan Eonni mulai kompak, ya?”

Aniyeo!” seru keduanya bersamaan lagi. Dan lagi-lagi, Jisoo terkekeh dibuatnya.

Eonni, ayo kita menonton televisi bersama!”

===

Sooji langsung mematikan mesin mobilnya ketika mereka tiba di depan sebuah rumah makan. Ia segera membuka pintu mobil lalu turun. Namun, ternyata Soohyun dan Gikwang belum juga turun. Mereka masih terdiam di dalam mobil.

Ya! Kalian tidak mau turun? Bukankah kalian lapar? Kalian bisa makan di sini, tempat ini makanannya serba murah dan enak, ayo turun!” seru Sooji sambil menundukkan kepalanya ke arah kaca mobil. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya ia pun menyerah, dan memilih membukakan pintu untuk Soohyun dan Gikwang.

“Kenapa sulit sekali membuka pintu kereta pada masa depan?” tanya Soohyun. Sooji mengerutkan dahi. “Ne?”

“Kereta ini sangat bagus, nyaman, dan bahkan terasa sejuk begitu kita berada di dalamnya!” seru Gikwang antusias.

“Apa kalian sudah gila? Ini bukan kereta, ini namanya mobil! Kereta itu, lebih panjang dari mobil, sangaaaaat panjang! Jadi, jangan mengada-ngada dan cepatlah turun!” ucap Sooji sembari menarik tangan Soohyun dan Gikwang.

“Aku sudah membantu kalian, ya. semoga saja kita tidak bertemu lagi. Aku pergi!”

Sepeninggal Sooji, mereka berdua segera berjalan memasuki rumah makan. Dan, betapa terkejutnya mereka ketika melihat banyak sekali orang yang makan di sana.

Taeja Jeonha, sepertinya, di masa depan, orang-orang makan bersama-sama! Lihat, bahkan, mereka yang bukan keluarga kerajaan pun bisa meminta para pelayan untuk mengantarkan makanannya. Benar-benar hebat.”

Keurae, kalau begitu, ayo kita masuk.”

Keduanya pun masuk ke restoran. Begitu mereka sampai di pintu masuk, seorang pelayan wanita menyambut mereka dengan ramah. Pelayan yang cantik.

“Selamat datang,” seru pelayan cantik tersebut.

“Wah, kita disambut dengan begitu ramah, Taeja Jeonha!” seru Gikwang yang terlihat semakin semangat untuk makan di restoran itu.

Setelah keduanya duduk di salah satu kursi yang kosong, mereka langsung diberi buku menu oleh salah seorang pelayan yang juga tak kalah cantik. Soohyun dan Gikwang pun langsung memilih banyak makanan dan juga minuman. Begitu semua pesanan mereka datang, dengan lahap dan rakusnya, mereka menyantap makanan mereka. Bahkan, mereka tidak ragu-ragu untuk terus menambah pesanan sesuai keinginan mereka. Hingga pada saat perut mereka kenyang, seorang pelayan memberikan selembar kertas.

“Ini tagihannya.”

Soohyun yang tengah kekenyangan itu hanya melihat sekilas kertas kecil pemberian pelayan tesebut, lalu kembali menyimpannya.

Jeogi, kapan anda membayarnya?”

“Bayar? Bayar apa?” tanya Gikwang yang tidak mengerti.

“Kalau makan di restoran, tentu saja harus bayar!”

Soohyun yang tidak terima atas perlakuan si pelayan pun langsung bangkit dari duduknya. “Aku adalah Raja pada masa dinasti Joseon. Bagaimana bisa kau memerintah seorang raja?!”

Mworaguyo? Jadi, kalian tidak akan membayar makanannya? Arrasseo, kalian memang ingin dilaporkan ke polisi rupanya, ya?”

===

Ya! Mau sampai kapan kau menonton televisi, huh? Kau tidak tahu kalau tagihan listrik mahal?!” seru Myungsoo yang tengah memakai dasi untuk bersiap pergi ke kantornya.

Sementara itu, Naeun yang sedang asyik menonton televisi seolah tidak berniat untuk membalas ucapan Myungsoo sedikitpun. Karena kesal, Myungsoo pun mengambil remot tv yang tergeletak begitu saja di atas meja, lalu mematikannya. Melihat layar tv yang menghitam, Naeun jadi terkejut lalu menoleh ke arah Myungsoo.

“Apa yang terjadi? Kenapa layarnya hitam semua?” tanya Naeun.

“Itu karena kau terlalu lama menyalakannya!” Myungsoo asal bicara.

Naeun yang tidak percaya dengan perkataan Myungsoo langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari remot. Namun, tentu saja remotnya tidak akan ia temukan, karena Myungsoo yang memegangnya. Naeun yang belum juga menemukan remot kini hampir menghancurkan sofa Myungsoo. Karena takut terjadi hal yang lebih parah, Myungsoo pun menghentikan Naeun.

“Kau mencari apa?”

“Bukankah, untuk menyalakan benda yang bernama telep, apa itu, eh, bukankah harus menggunakan benda berbentuk persegi panjang hitam yang kau tunjukan padaku? Tapi sekarang benda itu hilang,” ucap Naeun dengan wajah cemas.

“Lalu apa yang akan kau lakukan jika kau menemukannya?”

“Aku ingin menonton lagi.”

Myungsoo menghela napas berat. Gadis purba ini memang sangat sulit diberi tahu.

“Dengar, ya, Nona purba, di tahun 2014 ini, memang serba canggih dan modern. Ada lampu yang bisa menyala, ada AC yang bisa mendinginkan ruangan, ada tv, dan benda yang lainnya. Kita memang bisa menggunakannya, tapi itu semua tidak gratis, arra?”

Keurom, kau tinggal membayarnya,” jawab Naeun polos.

“Aku memang selalu membayarnya, tapi kau akan membuat tagihan listriknya semakin mahal jika terus menyalakan tv itu seharian!”

Naeun terdiam. Ia nampak berpikir. Ia menyalakan tv untuk keinginannya, tapi kenapa harus Myungsoo yang membayarnya? Kenapa bukan ia saja? Tapi, bagaimana caranya membayar?

“Aku, akan membayarnya,” ucap Naeun pada akhirnya.

Mwo?”

“Karena aku menyalakan tv untuk kebutuhanku, aku akan membayar tagihan listriknya.”

Myungsoo melipat kedua tangannya lalu memutar bola matanya. Apa gadis itu bercanda? Ia bilang akan membayar tagihan listriknya? Ia hanyalah gadis purba yang bahkan tidak mempunyai uang.

“Dengan apa kau akan membayar?” tanya Myungsoo.

“Aku akan bekerja!”

Ne?”

“Lagipula, aku tidak mungkin terus tinggal di rumahmu dengan gratis.”

Myungsoo mengerutkan dahinya ketika mendengar Naeun menyebut kata ‘tinggal’. Bukankah itu sama artinya dengan menetap?

Ya, apa kau tidak akan pergi? Apa kau akan terus berada di rumahku?”

“Memangnya bagaimana caranya aku pergi? Rumahku bahkan berada di tahun 1832! Aku tidak mungkin tinggal di rumah orang lain karena aku hanya mengenalmu. Karena itulah, aku akan bekerja mencari uang. Setidaknya, sebagai imbalan karena kau sudah mengizinkan aku tinggal di rumahmu.”

Tanpa berpikir lama, akhirnya Myungsoo memutuskan untuk menganggukan kepalanya. “Arrasseo, keunde, kau harus tau dulu bagaimana hidup di tahun 2014. Keurigu, janga keluar rumah tanpa sepengetahuanku. Aku akan mencarikanmu pekerjaan. Aku berangkat dulu.”

===

Sooji baru saja memasukkan mobilnya ke dalam garasi di rumahnya ketika ponselnya berbunyi. Tanpa keluar dulu dari mobil, ia langsung mengambil ponselnya dari dalam tas.

Yeoboseyo?”

“Kami dari kepolisian Seoul. Apa benar, anda yang bernama Bae Sooji?”

Ne, benar. Memangnya ada apa?”

“Kami minta anda segera ke kantor polisi.”

“Tapi ada perlu apa?”

“Akan kami beritahukan ketika anda datang.”

===

Sooji masih saja terpaku menatap dua orang pemuda yang baru saja ia tinggalkan di depan restoran. Pemuda yang mungkin agak ‘gila’ karena mengenakan baju jaman dinasti Joseon. Sooji baru saja bernapas lega karena bisa melepas mereka, namun nyatanya, ia harus bertemu kembali dengan mereka berdua hanya karna kebodohannya yang menjatuhkan kartu namanya di jok belakang mobilnya. Dan ternyata, salah satu dari mereka memungutnya, dan menjadikannya ‘bahan’ untuk bisa keluar dari kantor polisi.

Sooji pun menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang berhadapan dengan tempat kedua lelaki itu duduk. Ia memijat pelipisnya frustasi. Bagaimana bisa keduanya tidak mau disuruh pulang? Sooji pun semakin bingung harus membawa mereka kemana.

“Kalian!” umpat Sooji kesal.

“Aku ingin mandi, siapkan aku air,” perintah Soohyun yang masih bertindak sebagai Pangeran.

Sooji memutar bola matanya lalu berdecak kesal. “Kau pikir aku siapa? Kau berani memerintahku?!”

Soohyun bangkit dari sofa, ia lalu berjalan beberapa langkah untuk mendekati Sooji. Setelah ia berdiri tepat di hadapan Sooji, tangannya langsung menarik lengan Sooji, membuat gadis itu reflek bangkit hingga mereka berdiri berhadapan.

“Memangnya kau siapa? Kenapa kau berani menolak permintaanku?” tanya Soohyun sembari mendekatkan wajahnya pada Sooji. Ekspresi wajahnya menunjukkan kesombongan.

“Tau begini, seharusnya aku tidak membantu kalian keluar dari kantor polisi!”

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Yang jelas, sekarang cepatlah laksanakan perintahku!”

Mendengar bentakan dari Soohyun untuk yang kedua kalinya, membuat Sooji semakin kesal. Bagaimana bisa lelaki ini terus memerintahnya? Apa ia pikir ini istananya? Mengapa ia terus menganggap bahwa dirinya adalah Pangeran dari masa dinasti Joseon? Dasar gila.

Tapi, mau bagaimana lagi? Ia sudah terlanjur membawa Soohyun ke rumahnya. Ya, ia memang hanya tinggal sendirian, karena kedua orang tuanya terlalu sibuk mengurusi bisnis mereka di luar negeri. Sooji sudah biasa hidup tanpa orang tua. Kadang, bila sedang kesepian, Sooji memilih untuk berkunjung ke rumah Myungsoo, untuk bertemu Jiyeon dan juga Jisoo.

Sooji sendiri masih menyelesaikan kuliah kedokterannya. Cita-citanya setelah selesai kuliah nanti adalah menjadi dokter yang sukses dan menikah dengan Myungsoo. Walaupun Sooji tak yakin cita-cita keduanya bisa terwujud.

“Kenapa masih diam?”

Sooji hanya menghela napas berat mendengar suara Soohyun. Melihat hal itu, Soohyun merasa diremehkan. Ia baru saja akan membentak Sooji lagi ketika Gikwang menahannya lalu berbisik di telinganya.

“Aku akan menceritakan semuanya padamu, mewakili Pangeran,” ujar Gikwang setelah berbisik pada Soohyun. Sementara Sooji hanya mengerutkan dahinya lalu kembali duduk.

Arrasseo, aku akan mendengarkan.”

Soohyun kembali duduk di sofa sementara Gikwang tetap berdiri karena akan bercerita.

“Jadi begini…”

===

“Apa saja yang ia bisa?” tanya Chorong, yang merupakan manager restoran di sebelah kantor Myungsoo. Chorong sudah mengenal dekat Myungsoo, jadi, tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka.

Myungsoo agak ragu harus menjawab apa. Ia menoleh ke arah Naeun yang tengah sibuk memperhatikan seisi restoran. Matanya itu berbinar setiap kali menjumpai hal yang aneh, yang pastinya tidak ada pada zamannya. Kira-kira, apa yang bisa dilakukan gadis itu?

“Mengantar pesanan mungkin?” tanya Chorong pada akhirnya, karena Myungsoo tak kunjung menjawab pertanyaannya.

Benar juga. Mengantar pesanan bukanlah pekerjaan yang sulit. Mana mungkin dia tidak bisa melakukannya. Pasti di zaman dinasti Joseon ada yang disebut dengan pelayan. Ya, dia pasti bisa. Akhirnya, Myungsoo pun menghampiri Naeun sebelum menyetujui usul Chorong.

“Nona purba,” panggil Myungsoo seraya menepuk bahu Naeun. Naeun yang tengah melihat pemandangan kota melalui jendela itu langsung menatap Myungsoo.

“Kau tau cara mengantarkan makanan, kan?”

Dengan yakin, Naeun mengangguk. “Apa itu pekerjaanku?”

Kali ini Myungsoo yang mengangguk. Setelah tahu bahwa Naeun menyanggupinya, Myungsoo membalikkan tubuhnya ke arah Chorong lalu mengangkat jempolnya, isyarat bahwa Naeun bisa melakukan pekerjaannya. Setelah mendapat respon senyuman dari Chorong, Myungsoo kembali menghadap Naeun.

“Mulai besok kita akan berangkat bersama dengan mobilku, kebetulan restoran ini bersebelahan dengan kantorku. Jangan sampai kau bangun kesiangan, arra?”

Ne.”

===

“Tahun 2014? Berarti, ini adalah zaman yang sangat jauuuuuuuhhhh lebih modern dibanding zaman Joseon, keurae?” tanya Soohyun. Sooji mengangguk.

Arrasseo, mungkin kalian memang benar berasal dari zaman dinasti Joseon. Apalagi melihat tingkah kalian yang hampir seperti orang gila. Setelah aku siapkan air, kalian mandi, lalu kalian ganti baju-baju kalian itu,” ujar Sooji seraya berjalan meninggalkan Soohyun dan Gikwang.

Taeja Jeonha, apakah kita tidak salah memilih tempat untuk tinggal di rumah gadis ini?” tanya Gikwang.

“Aku rasa tidak. Setidaknya, kita aman di sini, dan kita masih bisa hidup. Kita tidak akan lama di sini bukan? Setelah menemukan Naeun, kita akan secepatnya kembali ke Joseon. Oleh karena itu, kita jangan membuang-buang waktu.”

Algeseumnida, Taeja Jeonha. Keurom, apa tidak apa-apa jika kita melepas baju kita?”

“Jika memang ini yang harus kita lakukan agar bisa tetap berada di masa 2014 ini, ayo kita lakukan.”

===

“Cobalah yang ini!” seru Myungsoo sembari menyodorkan sejumlah pakaian wanita ke arah Naeun. Naeun hanya bisa diam sambil mengerutkan dahi. Ia pun memperhatikan pakaian itu. Sebuah kaos, sebuah dress dan sebuah blouse. Sedangkan untuk bawahannya, ada jeans dan rok mini. Dan juga ada beberapa pakaian santai dan baju tidur. Semuanya kini bertumpuk di tangan Naeun.

“Tunggu dulu, kenapa ada celana? Setahuku, celana hanya dipakai oleh lelaki, dan ukurannya tidak sesempit ini, juga ini, kenapa roknya pendek sekali? Dan yang lainnya juga pakaian yang aneh!” keluh Naeun.

Myungsoo hanya memutar bola matanya lalu berdecak kesal. “Sudahlah, tidak usah banyak protes! Kau ini sedang berada di tahun 2014, jadi kau harus bepakaian layaknya manusia di tahun 2014!”

Naeun mengerucutkan bibirnya. Ia kesal karena Myungsoo selalu saja memarahinya. Apa lelaki itu tidak bisa bicara pelan sedikit?

Arrasseo!”

Naeun pun segera memasuki kamar pas sambil membawa setumpuk pakaian. Pertama, ia mencoba beberapa pakaian santai. Tak lupa juga ia meminta pendapat Myungsoo. Setelah itu, ia pun mulai mencoba blouse dengan rok mininya. Myungsoo yang tadinya cuek saja, kini mulai tertarik melihat perubahan penampilan Naeun. Ketika sudah merasa cukup dengan blouse rok mininya, ia mulai mencoba kaos dan jeansnya. Ternyata, Myungsoo semakin tertarik melihatnya. Bahkan, tanpa sadar Myungsoo bergumam, “Cantik.” Dan terakhir, Naeun mencoba dressnya. Kali ini, Myungsoo tidak berkata apa-apa.

“Kenapa diam saja? Apa kelihatan jelek?” tanya Naeun.

“Kau kelihatan cantik,” jawab Myungsoo pelan.

Mwo?”

“Maksudku, dressnya kelihatan cocok untukmu. Akan aku beli semuanya, agar kau punya persediaan pakaian.”

Myungsoo pun segera berjalan meninggalkan Naeun yang masih kebingungan. Aku yakin sekali kalau dia baru saja bilang aku cantik, batin Naeun.

Setelah semua baju dibayar oleh Myungsoo, mereka berdua pun pergi untuk mencari tempat makan. Selama perjalanan, Naeun terlihat gelisah, ia seolah tidak tenang.

Ya, wae geurae?”

“Apa Jisoo baik-baik saja di rumah sendirian? Ini sudah malam, aku khawatir memikirkannya,” ucap Naeun. Myungsoo hanya tersenyum tipis mendengarnya.

“Jisoo sudah biasa di rumah sendirian. Kadang, ketika aku pergi ke kantor, Jiyeon juga meninggalkan Jisoo karena harus pergi berbelanja dan keperluan lainnya. Walaupun masih kecil, tapi Jisoo sudah mandiri, jadi tenang saja.”

Naeun tidak membalas perkataan Myungsoo. Ia justru memalingkan wajahnya ke jendela mobil, terlihat masih gelisah.

Arrasseo, kita pulang dulu lalu ajak Jisoo makan di luar bersama kita,” ucap Myungsoo yang seolah tahu isi pikiran Naeun. Gadis itu pun tersenyum.

===

Soohyun dan Gikwang tak henti-hentinya menatap bayangan mereka di cermin. Pakaian modern pemberian Sooji yang tengah mereka kenakan saat ini –kaos dan celana pendek– membuat mereka mendadak tidak mengenali diri mereka sendiri.

“Jadi, seperti inikah gaya berpakaian manusia di tahun 2014?” ucap Soohyun sambil memperhatikan bayangan dirinya di cermin.

“Apa kalian sudah sele–AAAAAAAAA!”

Soohyun dan Gikwang yang mendengar suara teriakan Sooji reflek menoleh ke belakang.

“Bagaimana bisa rambut kalian sepanjang itu?!” tanya Sooji sambil menatap tak percaya rambut Soohyun dan Gikwang yang menjuntai panjang sampai lantai.

“Tentu saja panjang, kami tidak pernah memotong rambut kami, tepatnya, tidak boleh!” jawab Gikwang dengan lantang.

“Mana ada peraturan seperti itu? Di tahun 2014, laki-laki pada umumnya berambut pendek. Malam ini juga, aku akan mengantar kalian ke salon. Ayo cepat!” seru Sooji sambil menarik tangan keduanya.

Tanpa basa basi, ia langsung menyeret Soohyun dan Gikwang untuk masuk ke dalam mobilnya. Lalu, mereka pun berangkat menuju salon terdekat. Sesampainya di salon, Sooji langsung menghampiri Sohee, pemilik salon tersebut yang memang sudah dikenalnya sejak lama.

Eonni, tolong potong rambut mereka yang super panjang ini! Kalau bisa, model rambutnya disesuaikan dengan tren ya!”

Arrasseo, kau tidak perlu terburu-buru, akan kuurus mereka, kau duduklah dulu ya.”

Gomawo, Eonni.”

Ia pun segera duduk lalu menghela napas lega. Sesaat kemudian, ia berpikir, kenapa tiba-tiba ia jadi peduli pada kedua manusia zaman Joseon itu? Aneh.

===

“Penuh sekali, apa masih ada tempat kosong?” taya Myungsoo sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru restoran yang mereka kunjungi.

“Di sana, Appa!” seru Jisoo sambil menunjuk meja kosong di dekat jendela, tempat yang strategis untuk melihat pemandangan malam kota Seoul.

“Wah, pilihan bagus, Jisoo-ya!” ucap Myungsoo lalu menggandeng tangan kiri Jisoo, sementara Naeun menggandeng tangan kanan Jisoo. Mereka tampak seperti keluarga yang bahagia.

Ketiganya pun duduk. Myungsoo duduk sejajar dengan Jisoo, sedangkan Naeun berhadapan dengan Myungsoo dan Jisoo.

Appa dan Eonni baru saja berkencan, ya?” tanya Jisoo polos.

Mwo?” reflek Naeun dan Myungsoo hampir bersamaan.

“Kalian pergi berdua sepanjang hari, bukankah itu namanya kencan?”

“Jisoo-ya, darimana kau tahu soal kencan kau itu masih kecil! Jangan bicara yang aneh-aneh!” ucap Myungsoo.

Keunde, kencan itu apa?” tanya Naeun yang ternyata jauh lebih polos dibanding Jisoo.

“Kau tidak tahu?” tanya Myungsoo. Naeun menggeleng.

Jeongmal?”

Ne, molla. Di Joseon tidak ada yang namanya kencan. Memangnya, kencan itu apa?”

“Kencan itu, dimana sepasang kekasih pergi bersama menghabiskan waktu mereka berdua, bisa itu dengan bepergian, piknik, menonton film, makan malam, bermain, dan hal lainnya,” jelas Myungsoo.

“Apa itu kekasih?” tanya Naeun lagi.

“Kau bahkan tidak tahu apa itu kekasih? Sepasang kekasih adalah seorang lelaki dan seorang perempuan yang saling mencintai satu sama lain.”

“Mereka tidak menikah?”

“Mungkin mereka akan menikah, tetapi, butuh proses.”

“Proses?”

Arra. Di tahun 2014, atau di zaman modern, manusia tidak langsung menikah begitu saja, mereka melakukan berbagai tahap, diantaranya, berkenalan, lalu saling menyukai, berkencan, menjadi sepasang kekasih, barulah mereka bisa memutuskan akan menikah atau tidak.”

“Ah, jadi begitu. Keurom, apa maksud Jisoo menanyakan kita ini berkencan? Berarti, kita akan menjadi sepasang kekasih, begitu?” tanya Naeun yang ternyata masih saja polos.

“Tentu saja tidak, Jisoo hanyalah anak kecil, dia tidak mengerti soal kencan. Kencan hanya bisa dilakukan jika ada rasa ketertarikan, atau mungkin bila sudah ada rasa cinta.”

“Cinta?”

Appa, Eonni, aku sudah lapar, berhentilah mengobrolnya!” seru Jisoo sambil menarik lengan kemeja Myungsoo.

Arrasseo.”

Naeun hanya tersenyum melihat Jisoo. Ia lalu mengedarkan pandangannya ke arah lain, mencoba memperhatikan seisi restoran. Ia sudah sering dibuat kagum oleh pesona bangunan-bangunan dan ruangan-ruangan di zaman modern ini berbeda dengan di zaman Joseon. Tetapi, Joseon tetaplah kampong halamannya, dimana ayahnya berada. Jujur, ia sangat merindukan ayahnya. Ia masih berharap bahwa bukan ayahnya yang membunuh raja. Hingga tanpa sengaja, Naeun melihat seorang lelaki paruh baya dengan jas hitam dan rambut yang beruban sebagian tengah duduk sambil menyantap hidangan makan malam di restoran tesebut. Sosok lelaki yang tidak mungkin tidak dikenali oleh Naeun.

Appa!”

=To Be Continued=

 

Maaf banget karena chapter 4 ini updatenya super lama sampe berbulan-bulan. Harap maklum ya, karena aku ini termasuk salah satu korban kurtilas yang belum bisa beradaptasi bener-bener sama dunia sma/asseeekk/ cie cie, yang baru jadi anak sma, doain author semoga nanti uasnya lancar dan bisa cepet update chapter 5 supaya ngga ngaret lagi ya, wkwk. Dan ngga bosen-bosennya aku minta maaf kalo masih banyak typo yg bertebaran. Ok, bye bye, don’t forget to leave your comment.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

8 thoughts on “[Chaptered] Is It Too Late? (Chapter 4)

  1. Yahh.. Akhirnya update jugaaa,, aaaaa myungsoo kyknya bkal trtarik sma naeun kwkwkwk,, ayoo thorr lnjutkannn xD fighting ☆L(´▽`L )♪ sukses buat uassnya ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s