Chaptered · FanFiction

[Chaptered] My Last (Chapter 2)


my-last-request-dkjung1

My Last (Chapter 2)

Written by DkJung

Poster by Junnie!ART

Main Casts : [Infinite] Kim Myungsoo | [A Pink] Son Naeun | [Infinite] Lee Sungjong

Support Casts : [Beast] Lee Gikwang | [Girl’s Day] Bang Minah

Genre : Romance | Length : Chaptered | Rated : Teen

>< 

Kim Myungsoo, lelaki tampan yang terlibat cinta segitiga, dimana ia harus memilih antara menjadi lelaki normal atau gay, dengan memilih Son Naeun atau Lee Sungjong.

 

>Chapter 2<

Naeun berlari tergesa-gesa memasuki gerbang sekolahnya. Tidak, bukan karena ia datang terlambat, tetapi karena ia sedang bersemangat. Sangat bersemangat. Hari ini, Myungsoo akan bersekolah di sekolahnya. Tentu saja Naeun senang, dengan begini, ia bisa terus bertemu dengan Myungsoo setiap harinya. Ditambah lagi, rumah mereka bersebelahan.

Sesampainya di kelas, Naeun langsung menghampiri bangku sahabatnya, Heo Youngji.

“Ada apa? Kenapa kau sampai berkeringat begitu?” tanya Youngji ketika melihat peluh yang mulai membasahi pelipis Naeun.

Sementara Naeun tidak langsung menjawab. Ia justru menaruh tasnya lalu menarik Youngji keluar kelas. “Kajja, palli!” serunya, tanpa memberi tahu pada Youngji mereka akan kemana.

Naeun berlari cukup kencang, sedangkan Youngji hanya mengikutinya dari belakang. Keduanya lalu menghentikan langkahnya di depan kelas 3-1.

“Kau lihat lelaki yang duduk di barisan kedua dari belakang itu?” tanya Naeun. Youngji mengangguk. “Wae?”

“Dia adalah calon pacarku!” seru Naeun bersemangat.

Mwo?”

“Orangtua kami menjodohkan kami. Namanya Kim Myungsoo. Eottae, kami cocok, kan?”

“Apa kalian saling menyukai?”

“Aku sangat menyukainya! Dia benar-benar lelaki tipe idealku!”

Keurom, bagaimana dengannya? Apa dia juga menyukaimu?”

Naeun menunduk. Ia tidak tahu Myungsoo menyukainya atau tidak. Di hari pertama mereka bertemu bahkan Myungsoo hanya melirik ke arahnya satu kali saja.

Molla, keunde, aku akan menyatakan cintaku padanya hari ini juga! Aku akan membuat dia jadi milikku,” ucap Naeun yakin.

Aigoo, kau ini, seharusnya kau kurangi rasa percaya dirimu itu. Bagaimana jika kau ditolak?”

Maldo andwae! Lagipula, kami, kan sudah dijodohkan, jadi dia tetap akan berpacaran denganku, mau atau tidak mau. Kau tahu sendiri, kan? Di sekolah ini, banyak lelaki yang sudah menyatakan cintanya padaku, tapi aku tolak. Mereka semua menginginkanku, Youngji-ya. Keurom, mana mungkin Myungsoo Oppa bisa menolak pesonaku?” ucap Naeun sembari membenahi rambut panjangnya.

“Kau memanggilnya ‘Oppa’? Apa kalian sudah sedekat itu?”

“Aku memanggilnya ‘Oppa’ agar kami lebih dekat.”

Youngji menggelengkan kepalanya. ia mempunyai firasat buruk soal rencana sahabatnya kali ini. “Entahlah, aku merasa kau tidak akan berhasil.”

Ya! Bagaimana bisa kau tidak mendukungku sama sekali? Kau ini sahabat macam apa?”

“Bukannya tidak mendukung, keunde, rencanamu ini terlalu gegabah. Apakah tidak terlalu cepat untukmu menyatakan cinta padanya? Apa kau sudah bisa melupakan Taemin?”

“Cepat atau lambat aku pasti bisa melupakannya,” jawab Naeun dengan nada bicara yang agak pelan, terlihat sekali bahwa masih ada sedikit keraguan di hatinya. Namun, lelaki yang menarik perhatiannya saat ini hanyalah Kim Myungsoo.

“Lagipula, kau ini kan perempuan, kau tidak malu jika kau yang menyatakan perasaanmu?”

“Aku sama sekali tidak malu, karena aku yakin dia akan menerimaku, kita lihat saja nanti. Tepat saat bel istirahat berbunyi, aku akan kembali lagi ke sini!”

Youngji hanya bisa menghela napas panjang melihat watak sahabatnya itu yang belum juga berubah. Sepertinya Naeun memang sangat keras kepala.

>><<

Myungsoo mengalihkan pandangannya pada jendela sebelah kanan kelasnya yang mengarah pada koridor. Ia bisa melihat di sana, dua orang gadis tengah beradu mulut. Meskipun ia tidak bisa mendengar jelas percakapan mereka, tapi ia mengenal salah seorang dari dua orang gadis itu.

“Son Naeun, gadis itu benar-benar memuakkan,” gumamnya.

Myungsoo merogoh saku celananya lalu mengeluarkan ponselnya. Ada beberapa notifikasi dari line dan kakaotalknya. Setelah membukanya, Myungsoo melihat chatnya dengan Sungjong. Chat yang dikirim Sungjong pada line dan kakaotalk hampir sama, isinya adalah menanykan bagaimana keadaan Myungsoo, dan kenapa Myungsoo belum menghubunginya.

Mianhae, Sungjong-ah,” gumamnya lagi.

Aku tahu kau pasti akan sangat kecewa mendengar ini semua, tapi, aku tidak ingin ada rahasia yang ditutupi di antara kita. Aku sebenarnya dijodohkan oleh orang tuaku dengan seorang gadis. Tapi aku sama sekali tidak menyukainya. Kau tahu, kan? Mustahil aku bisa menyukai perempuan. Kau tenang saja, aku akan berusaha, bagaimanapun caranya aku akan membatalkan perjodohan ini. Tunggu aku, Sungjong-ah.

Setelah mengetik balasan untuk Sungjong, Myungsoo melihat kembali ke arah jendela. Namun nyatanya, Naeun dan temannya itu sudah tidak ada di sana. Myungsoo pun bisa menghela napas lega mengetahui kepergian gadis itu.

“Semoga saja aku bisa membatalkan perjodohannya. Apapun pasti akan kulakukan.”

>><<

Ya, apa kau akan terus diam seperti itu? Kau tidak akan menerima permintaan maafku?” tanya Sungyeol untuk kesekian kalinya pada Sungjong yang masih saja duduk terdiam di bangkunya sambil terus menatap layar ponselnya.

Arrasseo, tapi kau harus berjanji tidak akan lagi mencampuri urusan hubunganku dengan Myungsoo, arra?”

Sungyeol hanya menggangguk dengan lemas. Sejujurnya, ia tentu akan terus ikut campur. Ia tidak rela sahabatnya yang tadinya normal itu menjadi seorang gay untuk selamanya, jika ia membiarkannya.

“Kau sedang apa?” tanya Sungyeol karena sedari tadi Sungjong tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.

“Sungyeol-ah, eotteokhaji?” tanya Sungjong. Kali ini, ia mengalihkan pandangannya pada wajah Sungyeol.

Wae geurae?”

“Myungsoo bilang, dia dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang gadis,” ucap Sungjong dengan raut wajah yang berubah khawatir.

Namun, mendengar hal itu, Sungyeol justru tersenyum. “Baguslah, aku senang mendengarnya.”

“Kau ini bagaimana? Kenapa kau malah senang? Bagaimana denganku?”

“Bagaimana apanya? Kau tinggal mengikutinya saja. Karena Myungsoo sudah dijodohkan dengan seorang gadis, kau juga harus mencari gadis lain untuk medampingimu nantinya.”

Ya, Lee Sungyeol, bukankah aku sudah bilang berkali-kali padamu, jangan pernah paksa aku untuk berpacaran dengan perempuan!”

“Aku tidak memaksamu, aku hanya mencoba sedikit mendorongmu agar kau sadar. Aku tahu kau tidak akan mungkin seperti ini selamanya, kau harus bangkit Sungjong-ah.”

“Bangkit? Apa kau menyuruhku untuk memulai hubungan lagi dengan seorang perempuan? Andwae! Shireo! Aku tidak akan pernah mau tersakiti lagi oleh perempuan manapun, mereka menjijikan, menyebalkan, jahat, tidak punya perasaan, licik, dan murahan! Semua perempuan itu murahan! Mereka sama saja! Mereka semua bisa dibeli dengan uang!”

“Sungjong-ah! Jagar perkataanmu itu!”

Keurom, kenapa aku harus berhubungan dengan perempuan? Wae?!”

Sungjong akhirnya pergi berlari keluar kelas. Sementara Sungyeol hanya bisa menghela napasnya. Lagi-lagi Sungjong marah padanya, padahal mereka baru saja berdamai belum lama tadi.

>><<

Gikwang tengah asyik mengobrol bersama teman-temannya ketika seorang siswa lelaki berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. Sepertinya seorang adik kelas, karena Gikwang tidak begitu familiar dengan wajahnya. Namun, Gikwang tidak heran dengan banyaknya adik kelas yang mengenalnya. Karena memang, ia merupakan sosok yang cukup popular di sekolahnya itu.

“Gikwang Sunbae!” panggilnya.

Wae?”

“Ada berita buruk! Di kelas 3-1, ada siswa pindahan dari Daegu, dan kabarnya, Naeun akan menyatakan cintanya pada siswa baru itu hari ini pada jam istirahat nanti!”

Mwo?!”

“Dan kabarnya, Naeun akan menyatakan cintanya di kantin sekolah.”

“Siapa nama siswa baru itu?”

“Kim, ah, Kim Myungsoo!”

Gikwang terdiam. Naeun menyukai lelaki lain? Benarkah itu? Dan ia akan menyatakan cintanya hari ini? Mungkin, untuk mengetahui itu semua, Gikwang harus melihatnya nanti. Walaupun sakit hati sebagai resikonya.

Arrasseo, gomawo kau sudah memberitahuku soal ini.”

>><<

Tepat setelah bel istirahat berbunyi, Naeun langsung berlari keluar kelas. Seperti biasanya, ia menggiring Youngji bersamanya. Wajah Naeun tampak bersinar saat itu, berbeda dengan Youngji yang justru khawatir dan cemas. Ia mempunyai firasat buruk.

“Hari ini juga, Kim Myungsoo akan menjadi milikku,” gumam Naeun.

Youngji hanya menggeleng pelan mendengar gumaman Naeun.

“Naeun-ah, apa kau yakin akan berhasil? Aku punya firasat buruk akan hal ini.”

“Tenang saja, aku pasti berhasil, pasti!”

Setelah menaiki beberapa anak tangga, akhirnya mereka sampai di koridor kelas tiga. Naeun segera berjalan menghampiri kelas 3-1. Namun, kelas itu kosong. Ia berpikir mungkin Myungsoo sudah pergi ke kantin. Akhirnya, gadis itu pun kembali berlari menuruni tangga menuju kantin.

Ya, Son Naeun!” panggil Youngji karena ia kesal ditinggal begitu saja. Ia pun segera menyusul Naeun dengan langkah yang lebih pelan.

Sesampainya di kantin, pandangan Naeun langsung sibuk mencari dimana tempat Myungsoo duduk. Sambil melangkahkan kakinya dengan kecepatan sedang, ia mulai mengitari kantin sekolahnya yang cukup luas itu. Hingga akhirnya, ia menemukan Myungsoo tengah duduk sendirian di meja dekat jendela.

Oppa!” seru Naeun girang sembari duduk di hadapan Myungsoo.

Menyadari kehadiran Naeun, Myungsoo memutar bola matanya malas. Karena tidak ingin mengambil pusing, ia lebih memilih untuk melanjutkan kegiatan makannya.

Oppa, ada yang ingin kusampaikan padamu.”

Oppa? Sejak kapan kau memanggilku dengan sebutan itu?” tanya Myungsoo yang merasa tidak nyaman dengan panggilan yang diucapkan Naeun untuknya.

“Sejak kita dijodohkan, Oppa. Kau tahu, kan? Tidak lama lagi kita akan menjadi pasangan! Aku senang sekali! Oppa, kau mau menjadi pacarku, kan? Kau tidak mungkin menolak perjodohan yang dilakukan orang tua kita, kan?” tanya Naeun.

Aniyo.”

Ne?”

“Siapa bilang aku akan menerima perjodohannya? Aku tidak akan tinggal diam. Bagaimanapun caranya, aku akan membatalkan perjodohan ini. Dan aku juga tidak berminat sedikitpun untuk menjadi pacarmu, Son Naeun,” jawab Myungsoo.

Setelah menjawab, Myungsoo bangkit dari duduknya, membawa nampan makanannya, lalu berniat untuk berpindah tempat karena merasa tak nyaman dengan kehadiran Naeun. Namun nyatanya Naeun ikut bangkit lalu justru menahan lengan Myungsoo.

“Kau baru saja menolakku?” tanya Naeun dengan wajah penuh amarah.

Myungsoo menghela napas kesal, “Apa masih belum jelas?” tanyanya. Myungsoo lalu menepis tangan Naeun dengan kasar. Lelaki itu segera berjalan meninggalkan Naeun. Tapi ternyata Naeun tidak menyerah begitu saja, ia berusaha untuk terus menahan Myungsoo. Hingga ketika ia menahan kembali lengan Myungsoo, Myungsoo justru menepisnya dengan kedua tangan, sehingga nampan yang berisi makanan itu tumpah mengenai seragam Naeun tanpa sengaja. Akan tetapi, bukannya meminta maaf, Myungsoo justru pergi begitu saja.

Gikwang yang saat itu memperhatikan dari mejanya langsung bangkit dan segera menghampiri Naeun. “Gwenchana?”

Naeun tidak mengubris pertanyaan Gikwang. Ia justru berlari meninggalkan Gikwang, mengejar Myungsoo yang belum terlalu jauh itu. Sedangkan Gikwang hanya bisa memendam amarah yang sangat besar pada Kim Myungsoo.

Sementara itu, Minah yang juga ternyata berada di kantin tengah memperhatikan Gikwang dari tempat ia duduk. Lelaki yang malang. Entah sampai kapan cintanya akan bertepuk sebelah tangan.

Paboya, mau sampai kapan kau terus mengejar Naeun?” gumam Minah.

>><<

“Kau sudah pulang?” tanya Nyonya Kim yang saat itu tengah memasak di dapur begitu melihat anaknya pulang.

Myungsoo hanya diam, tidak membalas perkataan ibunya, bahkan melirik sedikitpun tidak. Ia baru saja berniat menaiki tangga menuju kamarnya ketika ibunya memanggil.

“Myungsoo-ya, kenapa kau diam saja? Apa ada masalah?” tanya ibunya.

Myungsoo menghela napas, mencoba meredam emosinya yang belum hilang sejak Naeun membuatnya kesal di kantin sekolah siang tadi. Karena sudah tidak tahan dengan sikap Naeun, mungkin memang lebih baik Myungsoo menceritakan soal Naeun kepada ibunya.

Eomma, aku sudah tidak tahan lagi! Gadis itu membuatku muak!”

Nugu? Naeun?”

Keurae, ia membuatku kesal! Ia membuatku terlihat buruk di hadapan teman-teman sekolah, ia pasti sengaja melakukan ini semua!”

“Tenanglah dulu. Apa maksudmu? Memangnya apa yang dilakukan Naeun padamu?”

“Dia menyatakan perasaannya padaku di hadapan teman-teman sekolah, Eomma!”

Nyonya Kim terdiam sejenak. Ia memperhatikan wajah Myungsoo, lalu tersenyum. “Apa yang salah? Lagipula dia, kan akan menjadi pacarmu nantinya.”

Eomma, tidak bisakah kau membatalkan perjodohan ini? Aku sudah punya seseorang yang aku cintai! Aku tidak akan pernah meninggalkannya demi gadis manapun, dia adalah satu-satunya orang yang akan kujadikan pendamping hidupku nantinya!”

Nyonya Kim terkejut mendengar perkataan anaknya. “Kau, sudah punya pacar?” tanyanya.

Oh, Eomma, dan aku sangat mencintainya.”

Myungsoo lalu bergegas pergi begitu ia menyelesaikan perkataannya, meninggalkan ibunya yang masih terdiam di tempat. Nyonya Kim terlalu terkejut untuk mendengar hal itu. Anaknya mempunyai kekasih? Tetapi siapa dia? Dan kenapa Myungsoo tidak pernah menceritakannya?

Nuguya?” tanya Nyonya Kim yang membuat Myungsoo menghentikan langkahnya sejenak. Ia lalu membalikkan tubuhnya, menatap tajam ibunya.

Eomma tidak perlu tahu. Karena aku yakin, kalau aku memberi tahu pun, Eomma tidak akan pernah merestui hubunganku dengannya.”

Wae? Apa dia bukan gadis baik-baik?”

Eomma tidak perlu tahu.”

>><<

Omo, Naeun-ah!”

Nyonya Son langsung berlari menghampiri Naeun begitu anaknya itu memasuki rumah. baju seragam Naeun tampak begitu kotor dan juga berbau makanan. Ujung rambut Naeun pun basah akibat kuah sup yang ditumpahkan oleh Myungsoo.

“Apa yang terjadi padamu? Kenapa seragammu kotor begini? Apa ada yang menjahilimu di sekolah, huh? Katakan siapa dia!” seru Nyonya Son dengan panik.

Naeun tidak menjawab pertanyaan ibunya. Ia justru menghela napas lalu menatap lurus kedua mata ibunya. “Eomma.”

Waeyo? Bicaralah, siapa yang menjahilimu di sekolah?”

“Aku ingin Eomma berjanji satu hal padaku. Tapi Eomma harus menepati janji ini, jangan sampai mengingkarinya.”

Arrasseo, Eomma akan berjanji. Keunde, janji apa? Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Berjanjilah padaku Eomma, jangan pernah membatalkan perjodohanku dengan Myungsoo Oppa. Berjanjilah.”

Nyonya Son tersenyum mendengar permintaan anak perempuannya itu. Ia lalu memeluk Naeun dengan erat.

Keurom. Eomma yakin, kau pasti sangat menyukai Myungsoo, bukan?” tanya Nyonya Son. Mendadak, ia merasa bahunya hangat dan basah. Merasa ada yang aneh, Nyonya Son pun melepaskan pelukannya dengan Naeun. Ternyata, anak perempuannya itu menangis.

“Kenapa kau menangis? Sebenarnya ada apa?”

“Aku sangat menyukainya, Eomma, aku tidak mau kehilangannya, aku tidak akan sanggup. Gomawo, Eomma sudah berjanji padaku,” ucap Naeun sambil menangis.

Aigoo, anakku ini sepertinya benar-benar menyukai sosok Kim Myungsoo, ya? Keurae, Eomma berjanji, Naeun-ah, tenanglah,” ucap Nyonya Son sambil kembali memeluk Naeun. Naeun pun semakin memperkeras tangisannya di bahu ibunya.

Gomawo, Eomma, jeongmal gomawo.

>To Be Continued<

 

Harap tinggalkan komentar jika ingin ff ini segera dilanjut ya^^

Advertisements

2 thoughts on “[Chaptered] My Last (Chapter 2)

  1. Aku melihat di blog tetangga sudah sampai part 7 ya ^^ … Aku nemu satu typo… Jadi kritik dan saran mungkin dicapt ujung^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s