Chaptered · FanFiction

[Chaptered] Jump then Fall (Chapter 1 : Know)


Jump Then Fall

by deardiany

starring Sehun Exo, Ong Seongwoo Wanna One, OC, etc.

Seo Hyemi’s Side

“Sekian dari kelompok kami dan terima kasih atas perhatiannya.”

Seisi kelas langsung bertepuk tangan dengan meriah. Lelaki itu menutup presentasi dari kelompoknya dengan mimik wajah yang serius. Dalam hati, aku terpesona. Bagaimana bisa presentasinya sebagus itu? Dia benar-benar pintar. Tunggu, dia memang pintar, tapi aku tidak menyangka dia sepintar ini. Lelaki yang jarang dan hampir sama sekali tidak pernah berbicara dengan teman-teman satu kelas kami baru saja menyelesaikan presentasi bersama kelompoknya dengan pembawaannya yang santai seolah tidak ada rasa gugup, jauh sekali dengan pembawaannya sehari-hari yang kaku. Bahkan, presentasinya tidak kuduga bisa sebagus ini.

Kami memang belum lama menjalani keidupan sebagai teman satu kelas di jurusan kimia, dan ini baru tahun pertama kami. Jadi, wajar saja bila aku masih belum benar-benar mengenal karakter teman-temanku, tidak, mungkin aku sudah bisa kenal karakter mereka kecuali satu orang, lelaki yang sangat pendiam itu, Oh Sehun. Selain pendiam, dia juga tidak pernah bergabung dengan teman-teman yang lain. Setiap kelas selesai, dia pasti langsung pergi dan paling cepat keluar ruangan.

“Bagus sekali ya penampilan dari kelompok terakhir ini, semua pertanyaannya juga terjawab dengan lancar oleh Sehun. Yang lainnya tolong lebih aktif lagi, ya.”

Teman-teman satu kelompok Sehun hanya nyengir mendengar nasihat dari Pak Kim.

“Silakan kalian boleh duduk.”

Dosen mata kuliah Desain Eksperimen itu tersenyum sambil mempersilakan kelompok Sehun untuk duduk. Semua anggota kelompok membungkuk lalu berjalan menuju tempat duduk asal mereka. Aku masih belum mengalihkan pandangan mataku dari Sehun. Sungguh, hari ini dia benar-benar luar biasa, tidak kusangka dia pintar sekali bicara tanpa gagap sedikitpun. Aku saja terkadang masih keringat dingin bila disuruh presentasi di depan kelas, walau berkelompok.

Ketika langkah Sehun sampai di samping tempat dudukku, aku mengacungkan kedua ibu jariku ke arahnya sambil tersenyum lebar. “Kau keren!” ujarku sambil menggerak-gerakkan kedua ibu jariku. Sehun hanya melirik padaku agak lama sebelum akhirnya kembali meluruskan pandangannya. Wow, aku kan baru saja memujinya, bagaimana bisa dia bahkan tidak tersenyum sedikitpun? Ohiya, aku baru sadar kalau ini adalah kalimat pertama yang kuucapkan padanya sejak pertama kali kami menjadi teman satu kelas dan satu angkatan jurusan Kimia. Aku kira ini juga akan menjadi percakapan pertamaku dengannya, sayangnya tidak.

“Orang seperti dia itu tidak perlu diberi pujian juga dia sudah tau kalau dia itu keren.”

Aku menoleh ke arah Heejin, teman yang duduk di sebelahku itu kini tengah tersenyum padaku sambil menggelengkan kepalanya karena mungkin lucu melihat tingkahku. Tidak hanya aku, mungkin seisi kelas juga menganggap Sehun itu lelaki terdiam di kelas bahkan di angkatan kami. Mendengarnya berkata begitu, aku hanya tersenyum masam lalu memandang ke arah Sehun yang baru saja duduk dan kembali fokus pada layar proyektor di depan kelas.

Dari sejak pertama aku melihatnya, aku sudah tahu kalau dia adalah anak yang pintar, hanya saja aku tidak menyangka public speakingnya akan sebagus itu juga, karena yang kutahu dia orangnya sangat pendiam. Hari ini, aku baru menyadari bahwa Oh Sehun adalah orang yang mengagumkan, dan sepertinya hari ini juga aku baru menyadari bahwa aku mulai tertarik dengannya.

“Daripada memperhatikan Sehun, lebih baik kau perhatikan Pak Kim,” tegur Heejin. Aku hanya tersenyum tipis lalu kembali memperhatikan penjelasan dosen Desain Eksperimen itu.

Walaupun kepalaku sudah menghadap ke arah slide yang ditayangkan Pak Kim, tapi isi kelapaku tetap saja Oh Sehun. Sehun. Dia berhasil membuatku jatuh cinta padanya hanya dengan lima belas menit presentasinya. Tapi, apakah aku akan bisa mendekatinya? Apakah pada akhirnya dia juga akan suka padaku? Kalau sampai itu terjadi, maka dia akan menjadi lelaki pertama yang suka padaku selama sembilan belas tahun aku hidup. Lelaki pertama yang suka padaku? Aneh, ya? Pasti orang akan berpikir, kenapa bisa? Aku sejelek apa sampai-sampai tidak pernah ada lelaki yang suka padaku?

Aku tidak pernah punya pacar bukan karena wajahku jelek atau tidak laku, tapi karena latar belakang keluargaku yang jelek. Bahkan sejak SD, aku tidak memiliki banyak teman karena latar belakang keluargaku. Teman saja tidak punya, apalagi pacar. Aku tidak mengerti pada orang-orang yang mudah terpengaruh hingga menjauhiku hanya karena gosip latar belakang keluargaku, ya, walaupun itu bukan gosip, melainkan fakta. Lagipula, memangnya hidup mereka sangat sempurna ya? Sampai-sampai orang seperti aku ini dikucilkan.

Aku selalu kesal sendiri bila mengingat masa laluku itu. Tetapi untungnya di SMA, aku bertemu Jeon Heejin, satu-satunya teman yang tidak mempermasalahkan latar belakang keluargaku.

“Baik, cukup sekian pertemuan kita hari ini.”

Perkataan Pak Kim menyadarkan lamunanku yang berakar dari Sehun dan kemudian bercabang-cabang hingga ke masa laluku.

“Sebelum saya tutup, saya akan memberikan tugas untuk mid-test kalian. Tugas ini akan dilakukan secara berkelompok. Setiap kelompok akan mendapat tugas yang berbeda. Kebetulan saya sudah membagi kelompoknya. Satu kelompok akan beranggotakan dua orang saja, saya ingin semua mahasiswa berpartisipasi dalam proyek grup ini,” jelas Pak Kim.

“Wah, kalo hanya dua orang begini, aku tidak bisa santai-santai, nih.”

Heejin tampak sedikit panik karena biasanya dia tidak berkontribusi banyak pada setiap tugas kelompok. Maklum, temanku yang satu ini masih agak kurang cocok hatinya dengan program studi Kimia yang saat ini kami jalani, walaupun dulu ketika kami masih SMA, ia sangat mendambakan jurusan kimia, sama halnya denganku. Mungkin setelah menjalani perkuliahan, dia mulai merasa keberatan dengan tugas, jurnal dan laporan praktikum. Kalau masalah itu, aku juga merasa keberatan sih, tapi mau bagaimana lagi, itu semua sudah menjadi makanan sehari-hari kami.

“Tenang, semoga saja kita kali ini satu kelompok ya,” ujarku. Heejin tersenyum lebar sambil menganggukkan kepala dengan semangat lalu menautkan kedua tangannya dengan ekspresi berharap.

“Kumohon sekali ini saja, aku ingin satu kelompok dengan Hyemi!”

Benar juga, kalau diingat-ingat, kami tidak pernah sekelompok. Entah kenapa.

Suasana kelas mulai agak ribut. Semua sibuk mengobrol dan mengira-ngira mereka akan satu kelompok dengan siapa. Sementara aku dan Heejin hanya bisa berdoa dalam hati masing-masing sambil memejamkan mata. Entah kenapa aku merasa gugup, mungkin karena proyek ini untuk mid-test Desain Eksperimen, pastilah bobot nilainya akan besar. Aku tidak boleh menyia-nyiakannya.

“Inilah daftar kelompok dan tugasnya yang sudah saya bagi,” ujar Pak Kim sambil menayangkan daftar kelompok melalui slidenya.

“Kita tidak satu kelompok, Hyemi.”

Mendengar kekecewaan Heejin, aku pun mulai membuka mata. Deg. Ada satu nama yang aku tatap dengan intens, takut-takut mataku salah membaca karena memang mataku baru sembuh dari silindris.

Oh Sehun.

“Saya membaginya secara acak, tidak berdasarkan apa-apa. Semoga kalian bisa membangun hubungan dan kerja sama yang baik dengan teman kelompok kalian sehingga nantinya hasil analisis kalian akan bagus.”

Pandanganku segera tertuju pada Sehun yang ternyata juga sedang melihat ke arahku. Aku pun tersenyum padanya. Jujur aku tidak bisa menahan senyuman ini karena terlalu senang.

 

Oh Sehun’s Side

“Kau keren!”

Aku mendadak bingung, dia siapa? Dan dia kenapa? Kita tidak pernah bicara sebelumnya. Kalau wajah, aku sudah hafal wajah teman satu kelasku, tapi aku tidak menghafalkan nama mereka. Jadi, aku tidak tahu nama gadis ini, Dan lagi, aku harus jawab apa? Apa pujiannya ini perlu balasan? Rasanya tidak, lebih baik aku diamkan saja lalu kembali ke tempat duduk, begitu pikirku.

Aku memang sudah kurang lebih lima bulan belajar bersama teman-teman sekelasku ini, tapi aku adalah tipe orang yang sulit menghafal nama. Entah sulit menghafal, atau memang aku tidak ingin menghafal, atau mungkin keduanya. Aku merasa tidak terlalu penting juga bila aku tahu nama mereka, toh aku tidak akan memanggil mereka.

“Sehun, terimakasih ya atas kerjasama kelompoknya, nilai kita pasti bagus!”

Park Jimin, teman sekelompokku menepuk bahuku sambil tersenyum lebar. Wajahnya sangat ceria. Mungkin aku sekarang tahu namanya karena kita teman satu kelompok. Tunggu, kerja sama katanya? Yang dia lakukan hanyalah menonton video dance, bukan mencari bahan materi selama kami bekerja kelompok. Kesal? Tidak juga. Aku tidak peduli bila seseorang ingin melakukan hal yang disukainya. Itu terserah dia. Aku juga tidak peduli bila dia nantinya tidak mendapat ilmu apa-apa.

Mendengarnya bicara begitu, aku bingung harus menjawab apa. Akhirnya kuputuskan utuk menganggukkan kepala saja lalu kembali memperhatikan Pak Kim di depan. Aku akui, aku memang tergolong pintar karena aku dikaruniai daya ingat yang baik. Aku dapat menghafalkan materi dan rumus dengan sekali baca saja. Mungkin sudah keturunan dari orang tuaku yang juga pintar. Tapi aku tidak mau seperti orang tuaku.

“Oh Sehun, Kau yang terbaik!” seru Jimin sambil mengacungkan tangannya, berniat untuk high five denganku. Tapi, aku terlalu malas sehingga aku abaikan saja. Aku bisa melihat dari ekor mataku Jimin hanya menghela nafas sambil mengusapkan tangannya ke celananya karena tidak jadi tos denganku.

“Biarlah dia bersikap dingin, yang penting nilai kita pasti besar! Beruntung sekali aku sekelompok dengan Sehun!” katanya, mungkin dia bicara dengan teman sebelahnya, aku tidak peduli.

Aku hanya bisa tersenyum miris mendengar perkataan Jimin. Inilah salah satu alasan kenapa aku tidak tertarik menghafal nama teman sekelas, apalagi sampai membangun pertemanan. Karena pada akhirnya, aku hanya akan dimanfaatkan. Jangan tanya mengapa aku punya pemikiran seperti ini. Aku sudah membuat keputusan, bahwa aku tidak akan menjadi orang yang terlalu baik, orang yang suka mengalah, orang yang murah hati. Karena aku pernah menjadi orang seperti itu. Karena orang yang terlalu baik akan kalah dengan orang yang licik. Bukan berarti aku ingin menjadi licik, tapi aku tidak akan pernah mau kalah oleh orang yang licik. Tidak akan lagi. Cukup sekali saja, dan aku tidak mau hal itu terulang kembali.

Mungkin dengan karakterku yang begini, orang-orang akan berpikir dua kali untuk mendekatiku. Karena sampai kapan pun, aku tidak akan pernah kembali pada diriku yang dulu. Tidak akan.

“Baik, cukup sekian pertemuan kita hari ini,” ujar Pak Kim. “Sebelum saya tutup, saya akan memberikan tugas untuk mid-test kalian. Tugas ini akan dilakukan secara berkelompok. Setiap kelompok akan mendapat tugas yang berbeda. Kebetulan saya sudah membagi kelompoknya. Satu kelompok akan beranggotakan dua orang saja, saya ingin semua mahasiswa berpartisipasi dalam proyek grup ini,” lanjutnya.

Tugas kelompok lagi. Kenapa Pak Kim senang sekali memberikan tugas kelompok. Kenapa tidak tugas individu saja? Aku malas bila harus berinteraksi dengan orang lain lagi. Aku ingin mengerjakan tugas sendiri. Untungnya hanya beranggotakan dua orang, tidak akan terasa sumpek bila kerja kelompok.

“Hey, Sehun!” Panggil Jimin.

Dengan malas aku menoleh padanya yang duduk di belakangku.

“Aku yakin kita pasti akan satu kelompok lagi!”

Aku kira ada apa. Tidak penting sekali. Lagipula aku tidak peduli nantinya akan sekelompok dengan siapa.

“Inilah daftar kelompok dan tugasnya yang sudah saya bagi.”

Aku memperhatikan dengan seksama apa tugas yang didapat oleh kelompokku. Tapi tunggu dulu. Partnerku Seo Hyemi? Siapa? Aku baru dengar namanya. Sepertinya kami tidak pernah satu kelompok sebelumnya.

“Saya membaginya secara acak, tidak berdasarkan apa-apa. Semoga kalian bisa membangun hubungan dan kerja sama yang baik dengan teman kelompok kalian sehingga nantinya hasil analisis kalian akan bagus.”

Akhirnya pandanganku pun menjelajahi setiap wajah teman sekelasku. Satu persatu aku perhatikan sambil mengira-ngira yang mana yang bernama Seo Hyemi. Tentunya aku hanya melihat wajah anak perempuan.

Ketika pandanganku tiba di seorang gadis yang tadi memberiku pujian, gadis itu lalu menatapku juga. Dia tersenyum. Apa maksud senyumannya? Apa dia Seo Hyemi?

 

**

Ong Seongwoo’s Side

Aku segera merogoh saku celanaku begitu sampai di lorong apartemen karena sedari tadi ponselku bergetar beberapa kali. Bahkan saat kelas sedang berlangsung. Aku terlalu malas untuk membukanya karena sudah tahu siapa pengirimnya dan apa isinya. Benar saja. Ternyata ibuku mengirim pesan.

Bagaimana kuliahnya, anakku? Lancar seperti biasa kan? Kalau dosenmu memberi nilai yang tidak memuaskan, ayahmu akan siap mengurusnya, tenang saja.

Aku sudah bosan membacanya. Inilah yang membuatku muak. Kedua orang tuaku terlalu memanjakanku. Aku masuk ke perguruan tinggi memang karena aku ingin. Tapi, kenyataan yang paling aku benci adalah, aku berhasil masuk bukan karena kemampuanku, tapi karena ayahku adalah pengusaha terkaya di Seoul dan sebagai donator terbesar di universitas tempat aku belajar saat ini. Banyak anak-anak yang mengejekku dan tidak mau berteman denganku karena menganggapku anak yang licik yang masuk universitas karena koneksi ayahnya. Tetapi, banyak juga anak-anak yang justru mendekatiku karena aku anak orang kaya.

Tetapi walaupun begitu, aku adalah tipe orang yang easy going. Aku tidak pernah peduli mereka membenciku atau menyukaiku. Toh, aku masih punya banyak sahabat yang benar-benar tulus. Yang terpenting adalah aku bisa kuliah dan aku akan mewujudkan cita-citaku menjadi psikolog.

Malam ini akhirnya aku bisa kembali ke apartemenku setelah sejak kemarin bermalam di rumah teman untuk mengerjakan tugas kelompok yang baru selesai tadi sore. Lelah sekali rasanya.

“Halo, Heejin! Kau kemana saja? Aku sudah meneleponmu berkali-kali tahu! Kenapa kau ganti passwordnya? Aku kan jadi tidak bisa masuk, lalu kenapa kau baru angkat sekarang teleponnya? Aku sudah dua jam beridiri di luar, ini sudah malam tahu!”

Aku menoleh ke belakang, mendapati seorang gadis tengah menelepon seseorang dengan suara yang keras berdiri di depan pintu kamar apartemen. Suaranya sangat keras hingga terdengar di sepanjang lorong. Dia tahu ini sudah malam tapi dia berteriak? Ditambah lagi ini sudah pukul sebelas malam. Dia gadis yang pulang malam dan berteriak-teriak mengganggu orang tidur. Aku hanya menggelengkan kepala lalu berniat berjalan menghampirinya.

“Hey, suaramu–”

Aku menginjak sesuatu. Benda tipis, seperti kartu. Sepertinya milik gadis itu. Aku mengambilnya, ternyata itu kartu tanda mahasiswa. Baru saja aku berniat mengembalikannya, tapi gadis itu sudah terlanjur masuk ke kamarnya. Aku berjalan agak cepat menghampiri pintu kamarnya. 307. Tetapi aku bingung, apa aku ketuk saja pintunya ya? Tapi dia baru saja masuk dan mungkin ingin istirahat malam ini. Aku takut tidak sopan.

“Hey, kenapa kau berisik malam-malam begini? Kau mengganggu tidurku tahu!”

Aku menoleh mendapati seorang ibu-ibu muda yang mengeluh. Mungkin karena suara berisik gadis tadi. Aku hanya membungkuk ke arahnya sambil tersenyum kikuk. Bingung harus menjawab apa. Karena bukan aku yang membuat keributan itu. Konyol. Aku bahkan sampai diomeli ibu-ibu muda karena keributan yang dibuat gadis itu.

Akhirnya aku membalikkan badan lalu berjalan menuju kamarku sambil memperhatikan kartu tanda mahasiswa itu. Tanda Mahasiswa Korea University. Dia sekampus denganku? Benar-benar kebetulan. Kami satu apartemen dan satu kampus juga rupanya. Seo Hyemi namanya. Aku menganggukkan kepala berkali-kali. Lumayan cantik, pikirku ketika melihat fotonya. Kenapa aku baru sadar ya dia tinggal di sini? Aku harus berkenalan dengannya tentunya. Karena dia tetanggaku. Iya, karena dia tetanggaku. Tetangga itu harus saling mengenal bukan? Mungkin aku lebih baik mengembalikannya besok. Sambil berkenalan dengannya. Memikirkan bagaimana nanti aku berkenalan dengannya, entah kenapa senyumku tiba-tiba muncul. Hey, apa yang kau pikirkan Ong Seongwoo?

“Wah wah, siapa itu? Cantik juga, kau sudah laku ya rupanya?”

Seseorang menepuk pundak kananku, aku meliriknya. Sahabatku, Kang Daniel, dia memang tinggal seapartemen denganku. Dan tunggu, dia baru saja meledekku?

“Apa maksudmu? Aku tampan begini, mana mungkin tidak laku,” jawabku percaya diri.

“Jadi itu milik pacarmu?”

Aku melihat kartu milik Seo Hyemi lalu tertawa pelan.

“Ini milik nona di kamar 307 itu. Sepertinya terjatuh. Aku harus mengembalikannya besok, sebagai tetangga yang baik.”

“Sebagai tetangga yang baik atau itu hanya modusmu saja?”

“Lelaki tampan sepertiku tidak perlu melakukan modus, perempuan sudah langsung jatuh cinta bahkan hanya dengan melihatku bernafas,” ucapku dengan bangga. Aku tahu pasti terdengar geli.

“Bicara apa sih kau ini? Lalu kenapa kau masih belum punya pacar, dasar aneh kau.”

“Kau tahu kan, seleraku itu tinggi. Jadi aku masih dalam tahap memilih-milih,” jawabku asal. Padahal aku berbohong. Aku pernah sekali berpacaran dan aku serius dengannya, tapi, orang tuakulah yang menghalanginya.

**

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s